Rabu, 23 Oktober 2013

Menyuguhkan Surga Lebih Baik Daripada Menakut Nakuti dengan Neraka

Suatu hari ada orang yang pernah bertanya kepada Ali, tentang tentang kemuliaan hari Jum’at, bulan Ramadhan, dan amalan yang paling utama.
Inilah jawaban Ali yang mampu memotivasi orang-orang untuk tetap selalu bersemangat ibadah:
Memang benar amalan paling dimuliakan oleh Agama adalah menunaikan Shalat tepat pada waktunya. Namun Agama lebih menginginkan agar engkau senantiasa bisa membuat Allah ridho dengan amalan yang telah engkau perjuangkan.
Memang benar bulan paling dimuliakan Agama adalah Ramadhan. Namun Agama lebih menginginkan agar engkau selalu berada di bulan yang di dalamnya banyak bertaubat.
Memang benar hari paling dimuliakan adalah Jum’at. Namun Agama lebih menginginkan agar engkau mati di hari saat engkau dalam keadaan beriman. [3]

Kearifan Ali dalam menjawab telah mengenyahkan pandangan bahwa kurang mulianya beribadah dan mati di luar hari Jum’at dan bulan Ramadhan. Untuk memotivasi orang-orang agar lebih bersemangat tentunya akan lebih baik bila kita menyuguhkan surga kepada mereka daripada menakuti-nakuti dengan adzab neraka. Dengan begitu, akan tumbuh rasa cinta kepada Allah karena apa yang mereka lihat dari Allah adalah kasih sayang-Nya bukan murka-Nya.

Dengan memahami bahwa Islam itu adalah agama yang indah, mungkin kita pun tidak lagi akan menjadikan shalat fardhu sebagai sebuah kewajiban karena takut akan adzab neraka, tetapi telah menjadi sebuah kecintaan kepada Allah SWT. karena keridhoan dan kasih sayang Allah, melebihi keindahan surga-Nya.

Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang luar biasa pun, Ali tetap santun dan arif tidak serta merta emosi karena pada dasarnya adakalanya mereka dalam kondisi benar-benar tidak tahu atau memang benar-benar punya tujuan mulia.
Berikut adalah salah satu kisah kearifan Ali dalam berdakwah:

Suatu hari Abu Bakar pernah kedatangan seorang pastor dari luar Arab. Dikatakan oleh pastor tersebut maksud kedatangannya:
“Aku dari negeri Roma dan aku datang membawa kantung berisi emas dan perak. Aku ingin bertanya kepada penjaga umat islam tentang beberapa masalah. Jika dia dapat menjawab maka aku akan mentaati perintahnya dan hartaku di hadapan kalian akan aku berikan kepadanya. Tetapi jika dia tidak dapat menjawabnya maka aku akan kembali ke negeriku.

” Abu Bakar berkata: “Bertanyalah sesuka hatimu.”
Pastor berkata: “Demi Allah, aku tidak akan berbicara sebelum anda memberiku jaminan berada di dalam keadaan aman dan dari kemarahan teman-temanmu.”
Abu Bakar berkata: “Aku jamin keamanan kamu dan tidak akan apa-apakan kamu, tanyalah apa yang ingin kamu ingin mengetahui.”

Pastor berkata: “Beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang tidak Allah miliki, sesuatu yang tidak ada pada Allah dan sesuatu yang tidak Allah ketahui?”
Abu Bakar gementar dan tidak mampu menjawab. Kemudian pastor itu bangun hendak keluar.
Lalu Abu Bakar berkata: “Wahai musuh Allah, sekiranya kita tidak membuat perjanjian tadi, niscaya aku basahi tanah ini dengan darahmu!”

Kebetulan Salman al-Farisi ada di situ, beliau bangkit dan pergi mencari Ali bin Abi Thalib yang sedang duduk bersama Hasan dan Husein di dalam rumah. Salman menceritakan kejadian yang baru saja terjadi kepada Ali.
Maka Ali bangun dan pergi bersama Hasan dan Husain ke masjid. Ketika orang ramai melihat Ali, mereka bertahmid dan mereka segera mendekati Ali. Ali masuk dan duduk. Lalu Abu Bakar berkata: “Wahai pastor, tanyalah kepadanya, dialah orang yang kamu cari.” Pastor pun menghadap Ali dan berkata: “Wahai lelaki, siapa namamu?”
Ali menjawab: “Namaku di kalangan Yahudi ialah Ilyan dan di kalangan Nasrani ialah Ilya. Sedang menurut ayahku, namaku adalah Ali dan menurut ibuku namaku adalah Haidarah.”
Pastor bertanya lagi: “Apa hubungan kamu dengan nabimu?”
Ali menjawab: “Beliau adalah saudaraku, mertuaku, dan putra pamanku.”
Pastor berkata lagi: “Kamu adalah temanku, demi Tuhannya Isa. Beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang tidak Allah miliki, sesuatu yang tidak ada pada Allah dan sesuatu yang tidak Allah ketahui?”

Ali menjawab: “Yang tidak Allah miliki ialah bahwa Allah Maha Esa, tidak memiliki isteri dan anak. Sesuatu yang tidak ada pada Allah ialah perbuatan zalim terhadap sesiapa (dan apapun). Dan sesuatu yang tidak Allah ketahui ialah Allah tidak mengetahui akan adanya sekutu bagi Nya dalam kerajaan-Nya.”

Pastor itu bangun dan lalu memegang kepala Ali dan menciumi antara kedua matanya, seraya berkata: “Kamu adalah sumber agama dan hikmah.
Aku telah membaca dalam Taurat namamu Ilyan dan dalam Injil adalah Ilya.
Beritahu kepadaku bagaimana keadaan kaummu?”
Ali menjawab pertanyaan itu dengan sebuah penjelasan.
Lalu pastor itu bangun dan menyerahkan seluruh hartanya kepada Ali dan kemudian pastor itu pulang kepada kaumnya.

ISLAM ITU RAHMATAN LIL’ALAMIN
Saat menjadi khalifah, Ali pernah berjalan-jalan di Kufah lalu melihat dengan yakin baju zirah perangnya namun saat itu berada di tangan seorang Nasrani.
Ali tidak tahu bagaimana bisa baju zirah perangnya ada di tangan Nasrani tersebut.
Sekalipun Ali telah meyakinkan Nasrani tersebut bahwa itu adalah baju zirahnya, namun Nasrani tetap bersikukuh itu miliknya. Karena tidak menghasilkan mufakat, Ali pun membawa perkara ini ke pengadilan. Yang menjadi hakim (qadi) saat itu adalah Syarih bin al-Harits.
Syarih bertanya kepada Nasrani tersebut: “Apa pembelaanmu atas apa yang diklaim oleh Amirul Mukminin?”
Nasrani itu menegaskan: “Baju zirah ini milikku, Amirul Mukminin tidak berhak menuduhku!”
Syarih kemudian berpaling kepada Ali: “Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau punya bukti bahwa itu adalah baju zirahmu?”
Ali menjawab: “Engkau benar Syarih, aku tidak punya bukti apapun.” Syarih bertanya kembali: “Atau apakah engkau punya saksi-saksi?”
Ali menjawab: “Ada, Hasan.”
Syarih menegur: “Tidak bisa, Hasan tidak bisa menjadi saksi karena ia adalah anakmu.”
Ali berkata: “Wahai Syarih, bukankah engkau pernah mendengar sabda Rasulullah saw. bahwa Hasan dan Husain adalah dua orang pemimpin surga?”
Syarih mengingatkan Ali: “Sekalipun begitu, syari’at Islam tetap tidak membenarkan anak-anakmu menjadi saksi.”
Ali mengakui apa yang dikatakan Syarih tersebut, dan akhirnya Syarih memutuskan bahwa baju zirah tersebut adalah milik orang Nasrani. Namun setelah Nasrani tersebut menerima kembali baju zirahnya, tak lama kemudian ia kembali menemui Ali dan Syarih seraya berkata: “Aku bersaksi bahwa hukum seperti ini adalah hukum para Nabi. Amirul Mukminin membawaku kepada hakim yang diangkat olehnya dan ternyata hakim tersebut menetapkan keputusan yang memberatkan Amirul Mukminin. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Demi Allah, baju zirah ini sebenarnya adalah milikmu wahai Amirul Mukminin.
Saat itu aku mengikuti pasukanmu menuju perang Shiffin, dan aku mengambil beberapa barang dari kendaraanmu.”

Mendengar hal itu Syarih dan Ali tersenyum, Ali pun berkata: “Karena kau telah ber-Islam, maka ambillah baju zirah ini untukmu.” Laki-laki itupun sangat senang dengan hadiah yang diberikan Ali tersebut.

LEBIH MENYUKAI JADI PELAYAN DARIPADA JADI PEMIMPIN
Seandainya saja berkehendak, Ali sebenarnya sangat berpeluang besar menjadi khalifah ketiga pengganti Umar, karena saat itu Utsman lebih memilih Ali untuk menjadi khalifah ketiga. Namun karena sudah menjadi sifat mulia para sahabat Nabi, Ali ternyata lebih memilih Utsman daripada menerima jabatan khalifah.
Begitupun di saat Ali kembali dicalonkan sebagai khalifah keempat, Ali malah berkata: “Tinggalkanlah aku, dan carilah orang lain yang lebih baik dari diriku… Daripada harus menjadi pemimpin, lebih baik aku menjadi pelayan untuk kalian.” [4]

[5] Apa yang menjadi dasar Ali dicalonkan kembali menjadi khalifah keempat?
Pertama, karena para sahabat Nabi lainnya pun sama menolak jabatan khalifah seperti di antaranya: Zubair bin al-Awwam, Thalhah bin Ubaidilah, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Umar. Akhirnya orang-orang pun kembali membujuk Ali dan kali ini lebih didukung oleh kaum Anshar dan Muhajirin serta para sahabat Nabi seperti Thalhah bin Ubaidilah, Zubair bin al-Awwam, Abdullah bin Umar, dan Sa’ad bin Abi Waqqash.

Kedua, karena Ali lebih punya hubungan dekat dengan Nabi dibandingkan kandidat lainnya. Lalu mengapa Ali kemudian menerima untuk di-bai’at menjadi khalifah? Ini tak lain dari sebuah pilihan yang sangat berat, satu sisi Ali enggan untuk menjadi pemimpin, tetapi di sisi lain kondisi kaum muslimin sangat genting terpecah belah dan harus sesegera mungkin dipersatukan kembali.

Saat Ali didesak untuk di-bai’at, ia berkata: “Sesungguhnya aku tidak menyukai perkara yang kalian bebankan kepadaku. Aku menerimanya demi kebaikan dan kepentingan kalian. Aku tidak ada artinya tanpa kalian… Wahai manusia, sungguh ini merupakan perkara yang sangat berat.
Tidak ada seorang pun yang berhak menetapinya kecuali yang kalian percayai… Apakah kalian ridho?”

Mereka menjawab: “Ya kami ridho.”
Ali lalu berdoa: “Ya Allah, saksikanlah mereka.”

[5] Seandainya Ali tetap menolak menjadi khalifah, berarti ia membiarkan kaum muslimin semakin terpuruk dan ini bukanlah sifat seorang muslim. Tetapi di sisi lain sebagaimana ahlak mulia para sahabat Nabi, Ali tidak pernah meminta jabatan khalifah. Atas pertimbangan kemaslahatan umat yang lebih besar yang harus didahulukan di atas prinsip dan kepentingan pribadinya, akhirnya Ali menerima untuk di-bai’at menjadi khalifah keempat setelah Utsman.

1 komentar: