Senin, 18 November 2013

Hukum Nikah Mut'ah


Inilah silsilah yang pertama dari silsilah kami mengenai agama Syi’ah yang kami tulis dengan tinta merah. Yang menunjukkan kemarahan kaum Muslimin terhadap satu agama yang menasabkan dan menganakkan diri mereka kepada Islam, padahal bukan Islam dan …

إِنَّ الرَّوَافِضَ لَيْسُوا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ.

Sesungguhnya Rafidhah (Syi’ah) itu bukan orang-orang Islam, (perkataan Imam Ibnu Hazm di kitabnya al-Fishal, 2/78 & 4/181-182)

Kami pilih yang pertama nikah mut’ah yang pada hakikatnya sebuah perzinaan besar-besaran yang ditutup oleh kaum Syi’ah dengan pakaian nikah dengan sejumlah alasan yang lebih lemah dari sarang laba-laba:

وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (العنكبوت:٤١)

Artinya : “… dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka Mengetahui.”(al-Ankabut:41)

Karena mereka telah jadikan nikah mut’ah ini sebagai perangsang bagi pemuda-pemuda yang jahil yang tidak mengerti sama sekali tentang hakikat ajaran agama Syi’ah. Kepada para pembaca yang saya hormati ikutilah pembahasan ringkas akan tetapi mudah dipahami dan menarik tentang nikah mut’ah ini.

Hadits Pertama

عَنْ عَلِيِّ : أَنَّ النَّبِيَّ صلّى الله عليه و سلّم نَهَى عَنْ نِكَاحِ الْمُتْعَةِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ لُحُوْمِ الْحُمُرِ اْلأَهْلِيَّةِ. (رواه البخارى ومسلم ومالك وغيرهم)

Dari Ali (bin Abi Thalib): Sesungguhnya Nabi صلّى الله عليه و سلّم, telah melarang nikah mut’ah pada hari (peperangan) Khaibar dan beliau pun (melarang) memakan daging keledai-keledai kampung/peliharaan.

Hadits Shahih Riwayat: Bukhari (5/78 dan 6/129); Fathu al-Bari, 9/166-167; Muslim, 4/134-135; Syarah Muslim juz 9/189-190; Malik dan Tanwiru al-Hawalik Syarah Muwatha’: 2/74; Tirmidzi (2/295); Nasai’i (6/125 dan 126); Ahmad (1/142); Darimi (2/140).

Dari hadits ini kita mengetahui bahwa Syi’ah bukan hanya menyalahi dan melawan Allah dan Rasul-Nya, bahkan mereka juga menentang Ali bin Abi Thalib yang menurut mereka sebagai Imam ma’shum pertama!? Menurut madzhab Ali, nikah mut’ah itu haram! Menurut agama Syi’ah halal, bahkan ibadah!

Hadits Kedua

عَنْ إِيَاسِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ: رَخَّصَ رَسُوْلُ اللهِ صلّى الله عليه و سلّم عَامَ أَوْطَاسِ فِى الْمُتْعَةِ ثَلاَثَاثُمَّ نَهَى عَنْهَا. (رواه مسلم: ٤/١٣١)

Dari Iyas bin Salamah, dari bapaknya (Salamah bin Akhwa’), ia berkata: Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم telah memberikan rukhshah/keringanan pada tahun authas untuk (nikah) mut’ah tiga hari, kemudian beliau melarangnya (yakni melarang mut’ah setelah memberi izin rukhshah selama tiga hari). (HSR. Muslim (4/131))

Hadits Ketiga

عَنِ الرَّبِيْعِ بْنِ سَبْرَةَ عَنْ أَبِيْهِ : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلّى الله عليه و سلّم: نَهَى يَوْمَ الْفَتْحِ عَنْ مُتْعَةِ النَّسَاءِ (رواه مسلم: ٤/١٣٣)

Dari Rabi’ bin Sabrah, dari bapaknya (Sabrah); sesungguhnya Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم, telah melarang nikah mut’ah pada hari Fathu Makkah (yaitu hari kemenangan kota Makkah tahun 8 H). (HSR. Muslin, 4/133)

وَفِى رِوَايَةٍ لَهُ: قَالَ: اَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلّى الله عليه و سلّم: بِالْمُتْعَةِ عَامَ الْفَتْحِ الْفَتْحِ حِيْنَ دَخَلْنَا مَكَّةَ ثُمَّ لَمْ نَخْرُجْ حَتَّى نَهَانَا عَنْهَا.



Dalam riwayat lain bagi Muslim (4/133), sabroh berkata: Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم telah memerintahkan kami (nikah) mut’ah pada tahun fathu makkah ketika kami memasuki kota Mekkah. Kemudian sebelum kami meninggalkan Makkah, beliaupun telah melarang kami darinya (dari mengerjakan nikah mut’ah).

وَفِى رِوَايَةٍ لَهُ: (٤/١٣٢) : أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلّى الله عليه و سلّم فَقَالَ: يَآاَيُّهَا النَّاسُ اِنِّي قَدْ كُنْتُ اَذِنْتُ لَكُمْ فِى اْلاِسْتِمْتَاعٍ مِنَ النِّسَاءِ وَاِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ, فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيُخَل سَبِيْلَهُ وَلاَ تَأْخُذُوْا مِمَّا آتَيْتُمُوْهُنَّ شَيْئًا.

Dalam riwayat yang lain bagi muslim (4/132); Sabroh menjelaskan larangan Nabi صلّى الله عليه و سلّم “Wahai manusia! Sesungguhnya aku pernah mengizinkan kamu untuk nikah mut’ah, dan (sekarang) sesungguhnya Allah telah mengharamkan nikah mut’ah tersebut sampai hari kiamat. Maka barangsiapa yang masih mempunyai ikatan (mut’ah) dengan perempuan-perempuan tersebut, hendaklah mereka lepaskan (putuskan ikatan perjanjian nikah mut’ah tersebut), dan janganlah kamu mengambil kembali sedikitpun juga apa-apa yang pernah kamu berikan kepada mereka (perempuan tersebut).

وَفِى رِوَايَةٍ لَهُ : (٣/١٣٤) : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلّى الله عليه و سلّم نَهَى عَنِ الْمُتْعَةِ وَقَالَ: اَلاَ اِنْهَا حَرَامٌ مِنْ يَوْمِكُمْ هَذَا اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ أَعْطَى شَيْئًا فَلاَ يَأْخُذْهُ.

Dalam riwayat yang lain bagi Muslim (4/134), Sabroh menjelaskan sesungguhnya Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم telah melarang nikah mut’ah dan beliau bersabda: “Ketahuilah! Sesungguhnya nikah mut’ah itu haram mulai (sejak) hari ini (yakni ketika fathu makkah) sampai hari kiamat. Dan barangsiapa yang telah memberikan sesuatu (harta atau mahar kepada perempuan-perempuan yang dinikah secara mut’ah) janganlah ia mengambilnya lagi.”

Sekarang, ikutilah pembahasan saya pasal demi pasal mengenai nikah mut’ah terutama nikah mut’ah di dalam agama Syi’ah.

Nikah Mut’ah telah Diharamkan sampai Hari Kiamat

Hadits-hadits di atas bersama saudara-saudaranya yang lain dari jama’ah para sahabat dengan tegas dan terang menyatakan bahwa nikah mut’ah telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dengan pengharaman abadiyyah (selama-lamanya) sampai hari kiamat. Yang sebelumnya yakni sebelumnya diharamkan beliau صلّى الله عليه و سلّم pernah memberikan keringanan kepada para shahabat untuk melakukan nikah mut’ah dengan dua sebab yang dapat diterima pada waktu itu:

1. Dalam keadaan darurat, yaitu pada masa peperangan di waktu safar

2. Dalam waktu yang sangat singkat diantaranya selama 3 tiga hari.

Dari sini kita mengetahui, bahwa mut’ah yang diizinkan Nabi صلّى الله عليه و سلّم sangat jauh berbeda dengan mut’ahnya kaum Syi’ah sebagaimana akan datang perinciannya. Insya Allah

Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم tidak mengizinkan mut’ah sewaktu mereka di Madinah (mukim) dan dalam masa yang panjang terus menerus. Tidak pernah keluar dari lisan beliau haq bahwa nikah mut’ah itu ibadah yang paling utama dan satu cara/ jalan untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah, atau orang yang menjalankannya akan mendapatkan ganjaran sekian dan sekian sampai menyamai derajat Ali, Hasan dan Husain. Bahkan beliau sendiri! Tidak! sama sekali tidak pernah! Kaum Rafidha’/Syi’ah telah begitu banyak menyebarkan dusta-dusta besar atas nama Nabi yang mulia صلّى الله عليه و سلّم mut’ah yang pernah beliau izinkan tidak lebih seumpama orang yang kelaparan dan tidak ada makanan lain, kecuali daging babi. Maka diwaktu itu diperkenankan memakannya demi menyelamatkan diri dari kematian atau mengambil istilah ahli ushul: “mengerjakan mudharat yang lebih kecil/ringan untuk menolak mudharat yang lebih besar”. Itulah mut’ah yang pernah beliau izinkan sebanyak dua kali pada dua tempat di masa perang dan dalam waktu singkat.

Pertama; pada waktu perang Khaibar (tahun 7 H). yang kemudian beliau haramkan di tempat yang sama (Khaibar) sebelum mereka kembali ke Madinah. (lihat kembali hadits Ali bin Abi Thalib).

Kedua; pada waktu fathu Makah. Yakni ketika beliau memasuki kota Makah beliau Nabi صلّى الله عليه و سلّم telah mengizinkan untuk mut’ah selama tiga hari (tidak lebih). Kemudian, beliau mengumumkan pengharaman nikah mut’ah untuk selama-lamanya sampai hari kiamat dengan sabda beliau yang sangat terkenal; “Wahai manusia! Sesungguhnya aku pernah mengizinkan kamu untuk nikah mut’ah (yakni selama tiga hari), sesungguhnya Allah telah mengharamkan nikah mut’ah itu sampai hari kiamat”. Dan sabda beliau lagi: “Ketahuilah! Sesungguhnya nikah mut’ah itu telah diharamkan mulai hari ini sampai hari kiamat”.

Dengan penuh ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, maka terjadilah ijma’ shahabat tentang haramnya nikah mut’ah untuk selama-lamanya. Para shahabat saling memberitahukan sesama mereka sebagaimana Ali bin Abi Thalib telah menggambarkan kepda Ibnu Abbas dan seterusnya. Demikian juga seluruh Ulama Islam, bahwan ijma’ umat bahwa nikah mut’ah tidak halal dan diharamkan sampai hari kiamat. Tidak ada yang menyalahinya, kecuali kaum Syi’ah/Rafidhah! Siapakah mereka ini sebenarnya? Ikutilah penjelasan yang menarik di bawah in. niscaya, para pembaca yang saya hormati, akan terheran-heran melihat betapa rusaknya kaum Syi’ah dengan sejumlah keanehan dan keganjilan mereka yang telah demikian jauhnya keluar dari agama Allah yang suci dan mulia ini (al-Islam) demi mempertahankan agama mazdak dan Majusi!

(Periksalah kitab-kitab : al-Fath, 9/169-167; Syarah Muslim, 9/189-190; Nailu al-Authar, 6/268/275; Subulu as-Salam, 38125/127; Fiqih Sunnah, 2/41/42; Zadul Ma’ad, 5/111/112 Ibnul Qayyim; Mawiu an-Nikah, hal. 91/114; Nikah Mut’ah (seluruh isi kitab) oleh Muhammad Abdurrahman bersama kitab-kitab lain yang banyak sekali).

Syi’ah adalah Agama

Sungguh keliru orang yang mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara Sunni dengan Syi’ah, kecuali sebagaiamana perbedaan yang terjadi di antara madzhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hambali) dalam masalah-masalah furu’iyyah ijtihadiyyah!? Dengan sebab dan dasar kejahilan ini dan sejak berdirinya kekuasaan para “a y a t” di negeri mereka, maka pemimpin-pemimpin Syi’ah segera dapat menegakkan dua asas yang sangat penting untuk memasukkan Syi’ah ke dalam agama Islam.

Pertama : Memasukkan Syi’ah menjadi salah satu madzhab (madzhab ke lima) dari madzhab-madzhab yang ada di dalam Islam seperti tersebut di atas.

Kedua: Taqrib (pendekatan) antara Sunnah dengan Syi’ah.

كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (المؤمنون:١٠٠)

“Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja.” (QS. Al-Mukminun: 100)

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (التوبة:٣٢)

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. At-Taubah:32)

Sementara itu Syi’ah tetap dalam keyakinan agamanya dan tidak bergeser sedikitpun juga, bahkan semakin bertambah-tambah kekufurannya.

يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ (الفتح:١١)

“mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya”. (QS. Al-Fath:11)

Itulah taqiyyah! Dan taqiyyah adalah agama Syi’ah! Demi menyebarkan agama mereka dengan lisan dan tulisan ke seluruh peloksok bumi, khususnya di negeri kita ini, mereka telah menginfaqkan harta-harta mereka dalam jumlah yang sangat besar.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ (الأنفال:٣٦)

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah”(QS. Al-Anfal: 36)

Kaum Muslimin yang mengerti betul hakikat ajaran Syi’ah, baik secara ijmali (garis besar) atau tafshili (terperinci), baik dilihat dari jurusan naqli maupun aqli, niscaya akan mengatakan secara tegas: “Satu kemustahilan akan terjadipendekatan (taqrib) antara Islam dengan Syi’ah. Karena Syi’ah adalah agama yang berdiri sendiri di luar Islam yang mengatasnamakan Islam. Dan Syi’ah adalah agama sebodoh-bodohnya manusia dalam dalil-dalil naqliyyah dan aqliyyah di antara firqah-firqah yang menasabkan diri kepada Islam padahal bukan Islam. Kecuali …

حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ (الأعراف:٤٠)

“hingga unta masuk ke lubang jarum“ (QS. Al-A’raaf:40)

Ketahuilah! Bahwa Syi’ah adalah agama di luar Islam. Perbedaan antara kita kaum Muslimin dengan Syi’ah sebagaimana berbedanya dua agama dari awal sampai akhir yang tidak mungkin disatukan, kecuali salah satunya menginggalkan agamanya!

Agar para pembaca mengetahui atas dasar bashirah (yakni hujjah yang kuat dan terang naqliyun dan aqliyyun bahwa Syi’ah adalah dien/agama), maka di bawah ini saya jelaskan sebagian dari aqidah Syi’ah yang tidak seorang muslim pun meyakini salah satunya melainkan dia telah keluar dari Muslim.

Pertama : Mereka mengatakan bahwa Allah Ta’ala tidak mengetahui bagian tertentu (juz-iyyat) sebelum terjadi. Dan mereka sifatkan Allah ‘azza wa jalla dengan al-Bada’ yakni Allah ‘azza wa jalla baru mengetahui setelah terjadi sesuatu!?

Maha suci Allah! Alangkah besarnya kezhaliman dan kekufuran Syi’ah! Aqidah Syi’ah di atas membantah isi al-Qur’an dari awal sampai akhir, di antaranya firman Allah:

وَإِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى (طه:٧)

“Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, Maka Sesungguhnya dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi” (QS. Thahaa: 7)

Kedua: Tahfirul-Qur’an (perubahan al-Qur’an). Yakni mereka meng-I’tiqad-kan telah terjadi perubahan besar-besaran di dalam al-Qur’an. Ayat-ayat dan surat-suratnya telah dikurangi atau ditambah oleh para shahabat Nabi صلّى الله عليه و سلّم di bawah pimpinan tiga khalifah yang merampas hak ahlul-bait, yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman?

Mereka juga mengatakan bahwa Al-Qur’an yang ada di tangan kaum Muslimin dari zaman shahabat sampai hari ini tidak asli lagi! Kecuali. Al-Qur’an mereka yang tiga kali lebih besar dari Kitabullah yang mereka namakan mushaf Fatimah yang akan dibawa oleh Imam Mahdi khurafat dan khayalan mereka yang tidak pernah ada wujudnya! Itulah aqidah Syi’ah mengenai Qur’an!

Allah ‘azza wa jallah telah berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (الحجر:٩)

“ Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya“ (QS. Al-Hijr: 9)

لا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ (فصلت:٤٢)

“Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji” (QS. Fush-shilat: 42)

Alangkah besarnya dusta dan penghinaan mereka terhadap al-Qur’an. Allah ‘azza wa jalla tegaskan bahwa Al-Qur’an di dalam pemeliharaannya dan tidak ada kemasukan satupun yang batil dari segala jurusan. Akan tetapi mereka mengatakan al-Qur’an telah dirubah oleh tangan-tangan manusia, yaitu para shahabat!

Ketiga: Satu di antara aqidah Syi’ah yang terpenting dan menjadi asas bagi mereka ialah mengadakan penyembahan terhadap manusia. Mereka bersikap ghuluw (berlebihan) terhadap imam-imam mereka, sehingga mereka tinggikan sampai kepada derajat uluhiyyah (ketuhanan). Untuk itu, mereka telah berbohong atas nama seorang shahabat besar ahlul jannah, Ali bin Abi Thalib bersama istrinya (Fatimah putri Nabi صلّى الله عليه و سلّم) dan kedua orang anaknya (Hasan dan Husain) dan seluruh ahlul bait.

Lihatlah kepada sebagian perkataan ulama mereka tentang Ali bin Abi Thalib yang kata mereka secara dusta telah mengatakan:

وَاللهُ لَقَدْ كُنْتُ مَعَ اِبْرَاهِيْمَ فِى النَّارِ وَاَنَا الَّذِى جَعَلْتُهَا بَرْدًا وَسَلاَمًا, وَكُنْتُ مَعَ نُوْحٍ فِى السَّفِيْنَةِ وَأَنْجًيْتُهُ مِنَ الْعَرَقِ, وَكُنْتُ مَعَ مُوْسَى فَعَلَّمْتُهُ التَّوْرَاةَ, وَاَنْطَقْتُ عِيْسَى فِى الْمَهْدِ وَعَلَّمْتُهُ اْلإِنْجِيْلَ, وَكُنْتُ مَعَ يُوْسُفَ فِى الْلجُب فَأَنْجَيْتُهُ مِنْ كَيْدِ اِخْوَتِهِ, وَكُنْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ عَلَى الْبِسَاطِ وَسَخَّرْتُ لَهُ الريَاحَ.

Demi allah sesungguhnya Akulah bersama Ibrahim di dalam api, dan Akulah yang menjadikan api itu dingin dan selamatlah (Ibrahim). Dan aku bersama Nh di dalam bahtera (kapal), dan Akulah yang menyelamatkannya dari tenggelam. Dan aku bersama Musa, lalu aki ajarkan ia Taurat. Dan Akulah yang membuat Isa dapat berbicara di waktu masih bayi, dan Akulah yang mengajarkannya Injil. Dan Aku bersama Yusuf di dalam sumur, lalu aku selamatkan ia dari tipu daya saudara-saudaranya. Dan Aku bersama Sulaiman di atas permadani (terbang), dan Akulah yang menundukkan angin untuknya. (Dinukil dari Kitab Syi’ah wa Tahrifu al-Qur’an oleh Syaikh Muhammad Malullah halaman 17, nukilan dari kitab al-Anwaru an Nu’maniyyah (1/31) salah satu kitab terpenting agama Syi’ah).

Sekarang, lihatlah apa yang dikatakan Khomeini (sekarang sudah binasa-red), pemimpin besar agama Syi’ah pada zaman ini, di dalam kitabnya al-Hukumatu al Islamiyyah (hal.52):

وَاِنَّ مِنْ ضَرُوْرِيَّاتِ مَذْهَبِنَا اَنَّ ِلأَئِمَّتِنَا مَقَامًا لاَ يَبْلُغُهُ مَلَكٌ مُقَرَّبٌ نَبِيٌّ مُرْسَلٌ

Dan, sesungguhnya yang terpenting dari madzhab kami, sesungguhnya imam-imam kami mempunyai kedudukan (maqam) yang tidak bisa dicapai oleh satupun malaikat muqarrab/dekat dan tidak oleh seorangpun nabi yang pernah diutus.

Maksudnya, imam-imam mereka itu jauh lebih tinggi dari para malikat dan sekali Nabi yang pernah diutus. Inilah salah satu penghinaan terbesar Khomeini kepada seluruh para malikat dan para Nabi semuanya (termasuk Jibril dan Nabi Muhammad صلّى الله عليه و سلّم berpegang pada keumuman lafazh yang diucapkan Khomeini).

Mereka pun meriwayatkan secara dusta atas nama Ali:

وَأَنَا الَّذِى أُحْيِى وَأُمِيْتُ …

Dan akulah yang menghidupkan dan mematikan … (Syi’ah wa Tahrifu al-Qur’an, hal.17)

Lihatlah! Mereka telah berdusta atas nama Ali dan ahlul-bait dengan satu kebohongan yang belum pernah diucapkan oleh firqah-firqah sesat yang mengatasnakaman Islam, padahal bukan Islam!

Lihatlah! Bagaimana mereka samakan Ali dengan Namrud dan Fir’aun yang menaku sebagai tuhan yang menghidupkan dan mematikan!

Pena saya tak sanggup lagi menulis satu atau dua ayat al-Qur’an yang menunjukkan kufurnya i’tikad mereka ini. Karena seluruh isi al-Qur’an menghancurkan kekufuran agama Syi’ah.

Keempat: di antara i’tiqad Syi’ah yang terpenting dan menjadi salah satu asas agama mereka ialah Aqidah Raj’ah, yaitu keyakinan “Hidup kembali di dunia ini sesudah mati atau kebangkitan orang-orang yang telah mati di dunia”. Peristiwanya terjadi ketika Imam Mahdi mereka (imam ke-12) mahdi khayalan dan khurafat bangkit dan bangun dari tidurnya yang demikian lama lebih dari seribu tahun (karena selama ini ia bersembunyi di dalam gua). Kemudian dihidupkanlah kembali seluruh imam mereka dari yang pertama sampai yang terakhir tanpa terkecuali Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم dan putri beliau Fatimah. Kemudian dihidupkan kembali pula musuh-musuh Syi’ah yang terdepan yakni Abu Bakar, Umar dan Utsman dan seluruh shahabat dan seterusnya. Mereka semua akan diadili, kemudian disiksa di hadapan Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم karena telah menzhalimi ahlul bait, merampas hak mamah dan seterusnya.

Aqidah raj’ah ini terang-terangan telah mendustakan isi al-Qur’an diantaranya firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (المؤمنون: ١٠٠)

“Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan”. (QS. Al-Mukminun : 100)

Ayat yang mulia ini menegaskan bahwa orang yang telah mati akan hidup di alam barzah (alam kubur) dan tidak akan hidup lagi di dunia sampai mereka dibangkitkan nanti pada hari kiamat.

Kelima : satu lagi diantara aqidah Syi’ah yang sangat penting dan menjadi asas tertinggi ialah pengkafiran kepada seluruh shahabat, kecuali beberapa orang seperti Ali, Fatimah, Hasan dan Husain dan …. Dan yang sedikit ini pun mereka tikam dan sembelih dengan kebohongan-kebohongan besar yang sukar dicari tandingannya kecuali Iblis. Yang pada hakikatnya mereka pun telah mengkafirkan Ali dan ahlul-bait dengan cara yang berbeda ketika mereka mengkafirkan seluruh shahabat. Manakah yang lebih mereka kafirkan, shahabatkah atau mereka yang kata mereka telah manzhalimi ahlul-bait ataukah Ali yang menurut mereka telah mengatakan bahwa dirinyalah yang menghidupkan dan mematikan?

Shahabat atau ahlul-bait kah yang kata Khomeini derajat mereka tidak bisa ditandingi oleh para malaika dan para Nabi?

Jawablah wahai kaum!

فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ (البقرة: ٢٥٨)

“lalu terdiamlah orang kafir itu; “ (QS. Al-Baqarah :258)

Ketahuliah! Ini adalah kaidah kaum zindiq,yaitu “merendahkan sebagian kemudian meninggikan sebagian yang lain dalam waktu yang bersamaan”. Mereka merendahkan para shahabat dengan caci maki dan laknat dalam melawan firman Allah yang banyak memuji para shahabat diantaranya keridhaan Allah kepada mereka رضي الله عنهم . Dan dalam waktu yang bersamaan mereka kafirkan juga Ali dan ahlu-bait dengan cara meninggikan mereka sampai kepada derajat tuhan! Itulah cara-cara kaum izindiq!

Sungguh tepat apa yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa Syi’ah itu buatan kaum zindiq munafik yang mana pada masa Ali hidup, beliau telah membakar sebagian dari mereka dan sebagian lagi melarikan diri dari pedang beliau. (Minhaju as-Sunnah, 1/3).

Keenam: Taqiyyah, yaitu zhahir-nya (baik perbuatan atau perkataan) menyalahi apa yang tersembunyi di hati (batin) mereka.

Inilah dusta dan nifak! Yang dengan taqiyyah ini ditegakkanlah agama Syi’ah yang dibina atas dasar kebohongan di atas kebohongan! Mereka mengatakan. “taqiyyah adalah agama kita”. Mereka amalkan taqiyyah dalam segala hal, sehingga setan-setan mereka di negeri kita ini, yang jelas-jelas Rafidhah, dengan tidak punya rasa malu sedikitpun juga mengatakan kepada kita : “Kami Ahlus Sunnah”!?

Alangkah serupanya malam yang kemarin dengan malam ini!

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ (البقرة: ١٤)

“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami Telah beriman”. dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” (QS. Al-Baqarah: 14)

Setelah kita kita melihat kepada sebagian aqidah Syi’ah yang tidak syak (ragu) lagi tentang kekufurannya, yang seorang tidak akan menjadi Syi’ah kecuali dengan meyikninya. Sekarang, marilah kita melihat kepada masalah-masalah fiqhiyyah agama Syi’ah, yang mana nantinya para pembaca yang saya hormati, akan mengetahui bahwa Syi’ah adalah agamanya kaum zindiq munafiq!.

Masalah Pertama :

Thaharah

Mereka mengatakan:

1. Bahwa air bekas dipakai istinja’ hukumnya tetap suci!? Dalam hal ini mereka telah ijma’!

2. Air madzi suci, tidak najis.

3. Air madzi tidak membatalkan wudhu’.

4. Air wadiy (air kencing kental warnanya hampir mirip dengan air mani suci, tidak najis).

5. Keluar air wadiy tidak membatalkan wudhu’

6. Tidak wajib mencuci seluruh muka dalam berwudhu’.

7. Tidak mencuci kedua kaki ketika berwudhu’, tetapi cukup mengusapnya saja.

Tidak kurang rusaknya dari masalah yang pertama, bahkan lebih rusak lagi yang menunjukkan bahwa mereka hanya mempermainkan shalat, satu ibadah yang sangat tinggi di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Masalah Kedua:

Shalat

Mereka mengatakan:

1. Boleh makan dan minum sambil shalat.

2. Kalau seorang laki-laki yang sedang shalat merapatkan dirinya ke tubuh perempuan yang cantik (bukan istrinya), lalu ia memeluknya dan ia sentuh fari’-nya ke belakang perempuan tersebut sampai keluar air madzi meskipun sampai banyak, maka menurut agama Syi’ah shalat orang tersebut tetap sah. Lihatlah! Adakah agama yang lebih rusak dari agama Syi’ah?

3. Boleh shalat sunnah dengan tidak menghadap ke kiblat! Apa yang pernah dikerjakan Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم shalat sunnah dengan tidak menghadap ke kiblat hanya di waktu beliau safar dan di atas kendaraan tidak secara mutlak.

4. Boleh shalat menghadap kubur para imam!

5. Boleh menjama’ shalat zhuhur, ‘ashar, maghrib, dan isya’ tanpa udzur dan safar.

6. Boleh menjama’ empat macam shalat sekaligus yaitu zhuhur, ashar, maghrib, dan isya’ selama menunggu kedatangan imam mereka!

7. Tidak boleh meng-qashar shalat dalam safar tijarah/berdagang!

8. Kebolehan men-qashar shalat itu secara khusus hanya pada empat macam safar. Safar ke Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Kufah, dan Karbala!?

9. Mereka memutuskan untuk meninggalkan shalat Jum’at selama mahdi hayalan mereka belum datang. Bahkan sebagian dari mereka dengan tegas mengharamkan shalat Jum’at! Jadi sudah sejak lebih seribu tahun kaum Syi’ah tidak pernah shalat Jum’at, kecuali dengan jalan taqiyyah!

Masalah Ketiga:

Jenazah

Mereka mengatakan:

1. Boleh meratap bahkan disukai di waktu ada kematian seperti memukul-mukul diri, merobek-robek pakaian dan lain-lain dari ratapan kaum jahiliyah yang dilarang Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم.

2. Boleh bahkan disukai membangun kubur, sepert menemboknya, mengapur, membuat kubah dan mendirikan bangunan di atasnya dari perbuatan-perbuatan yang mendapat laknat dari Allah dan Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم Lihat kubur tempat diistirahatkannya Khomeini!

Masalah Keempat

Shaum (Puasa) dan I’tikaf

Mereka mengatakan:

1. Batal puasa bila menyelam ke dalam air.

2. Tidak batal puasa seseorang yang makan kulit hewan atau daun-daunan. Maha suci Allah, mereka menghukumi batal puasa seseorang yang menyelam ke dalam air padahal sama sekali tidak ada keterangan yang membatalkannya dari Allah dan Rasul-Nya. Sementara itu tidak batal kalau memakan kulit atau dedaunan yang tegas-tegas telah datang keterangannya dari Allah dan Rasul-Nya.

3. Mereka menyukai puasa ‘asyura dari subuh hanya sampai ‘ashar. Lihatlah, bagaimana kaum ini telah terang-terangan melawan hukum Allah yang mewajibkan puasa-puasa apa saja dari terbit fajar (shubuh) sampai terbenamnya matahari (maghrib)

4. Puasa pada tanggal 18 dzulhijjah (yaitu hari Ghadir Khum) hukumnya sunnah muakkadah! Itulah Syi’ah! Mereka senantiasa mensyari’atkan sesuatu yang Allah dan Rasul-Nya tidak pernah syari’atkan!

5. Tidak boleh i’tikaf, kecuali di masjid yang pernah ditegakkan jum’at oleh Nabi Muhammad صلّى الله عليه و سلّم atau Ali!

Masalah Kelima:

Haji

Mereka mengatakan:

1. Tidak wajib menutup aurat dalam ibadah haji!?

2. Kalau seseorang berzina sesudah ihram tidak akan merusak hajinya.

3. Kalau seseorang setelah berihram berburu dengan sengaja satu kali saja, maka wajib baginya membayar kafarat (denda). Akan tetapi kalau dilakukan sampai dua kali, maka yang kedua tidak wajib membayar kafarat. Mahasuci Allah, seseorang bila melakukan satu kali maksiat berdosa, akan teapi kalau dua kali tidak berdosa. Barangkali kalau sampai tiga kali atu lebih akan berpahala menurut agama Syi’ah! (Masalah ke satu sampai ke lima bacalah kitab Tuhfatu al-Itsna ‘Asyariyah, hal. 211-230)

Bacalah seluruh isi kitab : Syi’ah wal Mut’ah oleh Muhammad Maalullah; mukhtashar Tuhfatu al-Itsna ‘Asyariyah oleh Sayyid Mahmud Sukri Al-Alusiy; Syi’ah wa Sunnah oleh Ihsan Ilahi Zhahir; al-Khututu al-‘Aridhah oleh Muhibuddin Al-Khatib. Dan secara khusus saya sarankan bagi para ulama, da’i dan penuntut ilmu untuk membaca dan men-dirasah-kan kitab besar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Minhaaju as-Sunnah, paling tidak mukadimah atau ringkasannya al-Muntaqa oleh murid besar beliau Syaikhu al-Jarh wa Ta’dil al-Imam Adz-Dzahaby yang ditahqiq oleh penulis besar Islam Muhibuddin al-Khatib, seorang ulama salaf. Kitab Minhaaju as-Sunnah merupakan karya besar Syaikhul Islam. Mahkotanya ulama salaf dalam menghancurkan perkataan Syi’ah dan Qadariyah. Bacalah! Niscaya engkau akan mengetahui hakikat agama Syi’ah!.

Nikah Mut’ah di dalam Dien/agama Syiah

Nikah Mut’ah yang terjadi pada kaum Syi’ah rinciannya sebagai berikut:

1. Nikah yang betempo atau kontrak dalam waktu yang tertentu dan telah disetujui oleh kedua belah pihak. Misalnya, satu bulankah, seminggu atau satu haripun boleh, bahkan menurut mereka satu kali jima’ pun jadi.

Apabila waktu habis …? Keduanya pun berpisah! Kecuali kalau keduanya setuju untuk menambah atau memperpanjang waktunya sampai sekian hari lagi dan seterusnya. Memang aneh, tapi itulah yang terjadi pada kaum Rafidhah/Syi’ah dan mereka tidak bisa mengingkarinya kecuali ber-taqiyyah.

2. Dalam nikah ini, wali dan dua orang saksi tidak bisa menjadi syarat sahnya nikah. Jadi apabila seorang laki-laki mengatakan keinginannya kepada seorang perempuan yang akan dimut’ahnya dengan mahar sekian dan dalam tempo waktu sekian, kemudian perempuan itu setuju, maka jadilah mereka mut’ah meskipun tanpa dihadiri oleh wali dan saksi, kecuali mereka berdua.

3. Dalam nikah mut’ah ini tidak ada thalaq.

4. Tidak ada ‘iddah syar’i kecuali ‘iddah yang dibuat-buat oleh kaum Syi’ah.

5. Tidak ada waris-mewarisi apabila salah seorangnya wafat.

6. Tidak ada kewajiban memberi nafkah.

7. Tidak ada batas jumlah perempuan yang harus di-mut’ah. Seorang laki-laki boleh mut’ah sebanyak perempuan yang ia sukai meskipun sampai puluhan dalam waktu yang sama. Bahkan dalam agama Syi’ah diperbolehkan sampai seribu.

8. Seorang laki-laki mut’ah beberapa kali tidak ada batasnya dengan perempuan yang sama meskipun sampai seribu kali.

9. Seorang laki-laki boleh mut’ah dengan perempuan yang mana saja dan dari agama apa saja. Yahudi, Nashrani, Budha atau Hindu dan lain-lain agama sampai kepada yang tidak beragama. Khomeini, di dalam kitabnya tahriru al-Wasilah dengan tegas memfatwakan kebolehan mut’ah dengan perempuan pelacur.

10. Boleh mut’ah dengan istri orang secara sembunyi-sembunyi.

11. Satu di antara sekian banyak kerusakan agama Syi’ah ialah diperbolehkannya seorang suami menyetubuhi dubur istrinya atau wanita mut’ah-nya yang kita namakan sebagai liwath. Inilah perbuatan yang mendapat laknat dari Allah dan Rasul-Nya.

12. Dalam agama Syi’ah ada satu mut’ah yang mereka namakan dengan mut’ah dauriyyah (mut’ah berjama’ah bergiliran). Caranya: beberapa orang laki-laki (berjama’ah) mut’ah dengan seorang perempuan, kemudian mereka ikrar saling bergantian menyetubuhi perempuan tersebut.

(Bacalah kitab Syi’ah wa Ahlul Bait, hal. 221 s/d 230 Ihsan Ilahi Zhahir; Syi’ah wal Mut’ah (seluruh isi Kitab), Muhammad Maalullah; Tuhfatu al-Itsna ‘Asyariyyah hal. 227-230. Dan lain-lain kitab).

Kedudukan Mut’ah di dalam Agama Syi’ah

Di dalam agama Syi’ah nikah mut’ah mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dan mulia. Ibadah yang paling afdhal dan seutama-utama cara untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah.

Mut’ah adalah rukun iman!. Berbahagialah orang mut’ah, meskipun hanya sekali. Apabila sampai berkali-kali, semakin sering mut’ah-nya. Niscaya semakin tinggi derajat dan kemuliaannya. Akan tetapi celakalah bagi mereka yang meninggalkan mut’ah, teristimewa bagi mereka yang mengharamkannya.

Lihatlah, bagaimana kaum ini telah menjadikan agama Allah sebagai permainan orang-orang kufur dan fasik. Dapatkah orang yang berakal menetapkan bahwa agama Islam agamanya para Nabi dan Rasul menjadikan perbuatan zina sebagai setinggi-tinggi ibadah?

Dan yang sangat keji dari kejahatan-kejahatan Syi’ah terhadap agama Allah ialah ketika mereka berbohong atas nama Allah dan Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم dalam menghalalkan zina yang mereka palsukan atas sungguhnya mut’ah itu merupakan rahmat Allah. Yang Allah khususkan untuk Syi’ah, tidak untuk manusia yang lain.”

Ya, Subhanallah! Mereka jadikan zina sebagai rahmat!

Dan diantara penghinaan terbesar kaum Syi’ah kepada Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم ialah kebohongan-kebohongan mereka dalam membuat hadits-hadits palsu atas nama Nabi yang Mulia, sayyidu al-Anbiya’ wa al-Mursalin صلّى الله عليه و سلّم Hadits-hadits palsu yang telah dibuat oleh Syi’ah, baik atas nama beliau صلّى الله عليه و سلّم atau ahlul-bait, jumlahnya banyak sekali, mencapai puluhan ribu lebih. Bahkan sampai ratusan ribu dalam seluruh kegiatan agama mereka, dan salah satunya adalah nikah mut’ah. Di antara hadits-hadits palsu yang mereka sandarkan atas nama Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم tentang nikah mut’ah ialah:

مَنْ خَرَجَ مِنَ الدُّنْيَا وَلَمْ يَتَمَتَّعْ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَهُوَ أجْدَعٌ.

Barangsiapa yang keluar dari dunia ini (wafat) dan ia belum melakukan mut’ah, niscaya ia akan datang pada hari kiamat dengan hidung yang terpotong.

مَنْ تَمَتَّعَ مَرَةً وَاحِدَةً عُتِقَ ثُلُثُهُ مِنَ النَّارِ وَمَنْ تَمَتَّعَ مَرَّتَيْنِ عُتِقَ ثُلُثَاهُ مِنَ النَّارِ وَمَنْ تَمَتَّعَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ عُتِقَ كُلُّهُ مِنَ النَّارِ.

Barang siapa yang mut’ah satu kali saja, niscaya dimerdekakan sepertiga dirinya dari api neraka. Dan barangsiapa yang mut’ah sampai dua kali, niscaya dimerdekakan dua pertiga dirinya dari api neraka. Dan barangsiapa yang mut’ah sampai tiga kali, niscaya dimerdekakan seluruh dirinya dari api neraka.

مَنْ تَمَتَّعَ مَرَةً كَانَ دَرَجَتُهُ كَدَرَجَةِ الْحُسَيْنِ, وَمَن بَمَتَّعَ مَرَّتَيْنِ كَانَ دَرَجَتُهُ كَدَرَجَةِ الْحَسَنِ, وَمَنْ تَمَتَّعَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ كَانَ دَرَجَتُهُ كَدَرَجَةِ عَلِىِّ ابْنِ أَبِى طَالِبٍ, وَمَنْ تَمَتَّعَ أَرْبَعَ مَرَّاتٍ فَدَرَجَتُهُ كَدَرَجَتِى.

Barangsiapa yang mut’ah satu kali saja derajatnya seperti derajat Husain. Dan barangsiapa yang mut’ah sampai dua kali derajatnya Hasan. Dan barangsiapa yang mut’ah sampai tiga kali derajatnya seperti derajat Ali bin Abi Thalib. Dan barangsiapa yang mut’ah sampai empat kali, niscaya derajatnya seperti derajatku.

(baca syi’ah wa Ahlu al-Bait, hal. 217-219 oleh Ihsan Ilahi Zhahir).

Kita bertanya kepada Syi’ah: “Bagaimana derajat orang yang mut’ah sampai lima kali atau enam kali?”

Allahumma! Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu dari menukil riwayat-riwayat yang kufur ini.

Ya Allah! Tidak ada yang dapat kami katakan kecuali apa yang telah Engkau katakan di dalam kitab-Mu yang mulia:

فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ (البقراة : ١٧٥)

“Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka!” (QS. Al-Baqarah : 175)

Barangkali para pembaca yang saya hormati akan bertanya-tanya heran apa yang membuat Syi’ah demikian beraninya berbohong atas nama Allah dan Rasul-Nya?

Saya jawab:

Pertama : Bahwa agama Syi’ah dibina dan diciptakan atas dasar kebohongan di atas kebohongan. Bohong adalah agama mereka sebagaimana mereka telah tegaskan : At-Taqiyyah Dinunna (nifak adalah agama kami!”)

Bohong merupakan syi’ar agama mereka! Tidak ada agama bagi mereka tanpa berbohong!

Kedua: Syi’ah adalah agama yang dibuat oleh kaum zindiq munafik yang tujuannya satu, yaitu merusak Islam dari dalam. Dalam hal ini mereka telah sepakat dengan ijma’ syaithaniyah.

Mut’ah adalah Zina

Sesuatu yang tidak dapat diragukan lagi oleh setiap mukmin bahwa mut’ah adalah zina yang tersembunyi di balik nama nikah. Ini, setelah kita mengetahui bahwa Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan nikah mut’ah untuk selama-lamanya sampai hari kiamat.

Sebetulnya dalil-dalil yang saya turunkan di atas telah cukup jelas dan terang, kaena tidaklah keluar dari lisan Nabi yang mulia صلّى الله عليه و سلّم kecuali kebenaran di atas kebenaran. Beliau telah bersabda: “Demi Alah yang jiwaku ada di tangan-Nya. Tidak keluar dariku melainkan kebenaran” (lihat majalah As-Sunnah, no. 4 hal. 7 dan 8 takhrij hadits ini).

Dan Allah ‘aza wa jalla telah berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا (الحشر : ٧)

“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah” (QS. Al-Hasyr : 7)

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا (النساء : ٨٠)

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia Telah mentaati Allah. dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS. an-Nisa : 80)

Dan Nabi yang mulia صلّى الله عليه و سلّم telah bersabda:

اَلاَ وَإِنَّ مَا حَرَّمَ رَسُوْلُ اللهِ مِثْلُ مَا حَرَّمَ اللهُ. (رواه الترمذى وابن ماجه وأحمد وغيرهم)

Ketahuilah, sesungguhnya apa-apa yang Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم haramkan (sama) seperti apa-apa yang Allah haramkan. (HSR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad dan lain-lainnya).

لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَا مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ (الأنفال: ٤٢)

“yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). (QS. Al-Anfal : 42)

Yakni agar binasa orang yang kufur itu sesudah datang dan tegaknya hujjah atas mereka, kemudian mereka menolaknya. Dan hiduplah orang-orang Mukmin dnegan keimanannya sesudah datang hujjah yang nyata dan mereka menerimanya. Agar binasa kaum Rafidhah di dalam kekufurannya sesudah tegaknya hujjah atas mereka. Dan hiduplah Ahlu Sunnah dalam keimanan sesudah tegaknya hujjah atas mereka.

Sekarang. Marilah kita ikuti sebagian dalil dari al-Kitab tentang terhukumnya nikah mut’ah itu sebagai zina. Dalam hal ini setelah kita melihat:

Pertama : Bahwa nikah mut’ah itu telah diharamkan. Dan ini mut’ah yang pernah terjadi pada zaman Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم bagaimana dengan nikah mut’ah-nya kaum Syi’ah?

Kedua: Dengan melihat kepada cara-cara mut’ah yang dibuat oleh kaum Syi’ah dan praktek-praktek yang biasa mereka lakukan, tidak lebih dari sebuah perzinaan besar-besaran yang ditutup dengan pakaian nikah.

Inilah dalil-dalilnya.

Dalil Pertama

Pada awal-awal surat al-Mukminun, Allah ‘azza wajalla menjelaskan tentang sifat-sifat orang mukmin yang akan memperoleh kemenangan, kejayaan dan keberuntungan dunia dan akhirat, diantaranya:

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (المؤمنون: ٥-٧)

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki[994]; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada terceIa. barangsiapa mencari yang di balik itu Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas. (QS. al-Mukminun : 5-7)

Allah menjelaskan sifat orang-orang Mukmin yang beruntung yaitu mereka yang memelihara farji dari zina, homo, lesbi dan seterusnya. Bahkan sebagian ulama seperti Imam Syafi’i dan yang sepaham dengannya memasukkan istimna’ (onani), berdasarkan ayat-ayat yang mulia di atas, haram hukumnya. Kecuali kalau kepada istri atau hamba sahaya/budak. Maka dalam hal ini mereka tidak tercela, bahkan tidak boleh memlihara farji dari istri/suami.

Rasulullah صلّى الله عليه و سلّم telah bersabda:

اِحْفَظْ عَوْرَتَكَ اِلاَّ مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِيْنُكَ. (رواه أبو داود والترمذى وأبن ماجه وأحمد وغيرهم)

Peliharalah auratmu, kecuali kepada istri atau budakmu. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan lainnya).

Barangsiapa yang mencari selain dari dua jalan yang diperbolehkan (yakni istri atau budak yang dimiliki), maka mereka itulah sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, tidak memelihara/menjaga fari-nya. Sekarang, marilah kita lihat, apakah nikah mut’ah dan perempuan yang di-mut’ah itu termasuk salah satu dari dua jalan yang dibenarkan atau tidak?

Jawabannya: Bahwa orang yang nikah mut’ah itu adalah orang yang tidak memelihara farji, yang melampaui batas, dan perempuan yang di-mut’ah bukan sebagai istri atau budak yang dimilikinya dengan sejumlah dalil dan alasan yang sangat kuat sekali, yang tidak mungkin dibantah. Lihatlah kembali pasal “Nikah Mut’ah di dalam Agama Syi’ah” disitu saya turunkan sebanyak dua belas (12) alasan yang membedakan antara nikah yang sah dengan nikah mut’ah. Kalau sekiranya tidak ada alasan lain kecuali satu saja yaitu adanya “ketentuan waktu/tempo sekian hari atau sekian jam”, cukuplah untuk membatalkannya.

Dalil Kedua

Firman Allah ‘azza wa jalla:

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ (النور: ٣٣)

Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. (QS. An-Nuur: 33)

Ayat yang mulia ini tegas sekali memberi petunjuk kepada kita tentang haramnya nikah mut’ah. Sebab, kalau sekiranya nikah mut’ah itu boleh, kenapa Allah perintahkan orang-orang yang belum mampu nikah untuk ta’affuf?

Dalil Ketiga

Firman Allah ‘azza wa jalla:

وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ مِنْكُمْ طَوْلا أَنْ يَنْكِحَ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ فَمِنْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ مِنْ فَتَيَاتِكُمُ الْمُؤْمِنَاتِ… (النساء: ٢٥)

Dan barangsiapa diantara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki. (QS. An-Nisa: 25)

Kemudian di akhir ayat Allah berfirman:

ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ الْعَنَتَ مِنْكُمْ وَأَنْ تَصْبِرُوا خَيْرٌ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (النساء: ٢٥)

…Yang demikian itu (yakni Kebolehan mengawini budak) itu, adalah bagi orang-orang yang takut kepada kemasyakatan menjaga diri (dari perbuatan zina) di antara kamu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisa: 25)

Dari ayat yang mulia ini kita mendapat petunjuk dalam ketegasan dalil dan hujjah yang kuat tentang haramnya nikah mut’ah. Karena kalau sekiranya nikah mut’ah itu halal, kenapa Allah membolehkan bagi orang yang belum mampu menikahi perempuan Mukminat yang merdeka untuk menikahi budak Mukminat?

Kenapa Allah tidak mengizinkan mut’ah yang tentunya lebih mudah dan murah daripada menikahi budak? Kalau bukan karena mut’ah itu tidak halal!

Lebih dari itu, kalau nikah mut’ah itu halal, kenapa Allah menganjurkan bagi orang-orang ynag tidak/belum mampu menikahi Mukminat merdeka untuk bersabar dari menikahi budak, dan jika kamu bersabar lebih baik bagi kamu?

Sekali lagi, kenapa Allah sama sekali tidak memberikan jalan sedikitpun juga bagi mut’ah? Kalau bukan karena Allah telah mengharamkan nikah mut’ah untuk selama-lamanya sampai hari kiamat melalui lisan Nabi-Nya Yang Mulia SAW.

Ringkasnya: Allah telah memberikan petunjuk kepada mereka yang belum mampu menikahi mukminat yang merdeka untuk menempuh salah satu dari dua jalan yang sebagiannya lebih baik dari yang lain:

Jalan pertama: menikahi budak mukminat. Ini khususnya bagi mereka yang tidak sanggup sabar dan takut terjerumus ke dalam zina.

Jalan Kedua: bersabar tetap menjaga kesucian diri (yakni tidak menikahi budak) sampai Allah memampukannya. (lihat dalil kedua).

Inilah yang terbaik dari dua jalan yang Allah izinkan. Dengan tidak adanya jalan ketiga yakni mut’ah yang memang tidak pernah disebut-sebut di dalam al-Qur’an, menunjukkan bahwa mut’ah tidak halal dan pelakunya terhukum zina.

Kerusakan Nikah Mut’ah



Hampir-hampir tidak dapat lagi kita menghitungnya berapa banyak dan besar kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan oleh nikah mut’ah-nya kaum Syi’ah yang mengatasnamakan Islam, yang pada hakikatnya bukan Islam. Di antaranya apa yang saya sebutkan di bawah ini:

1. Penghinaan besar terhadap Agama Allah (al-Islam), agamanya para Nabi dan Rasul yang mereka kotori dengan syahwat Iblis.

2. Merusak nama kaum Muslimin.

3. Merusak hukum nikah, satu ikatan mulia yang Allah katakan di dalamnya terdapat sakinah, mawaddah dan rahmat!

4. Merendahkan martabat kaum wanita yang hanya sekedar dijadikan sebagai pelampiasan dari kebuasan-kebuasan syahwat orang-orang yang kotor batinnya. adakah masih tersisa kehormatan bagi kaum wanita yang senantiasa dijadikan permainan syahwat dan berpindah dari satu lak-laki kepada laki-laki yang lain.

Ambil misal, umpamanya dalam satu bulan seorang wanita dapat di-mut’ah oleh tiga puluh orang laki-laki kalau ditaqdirkan setiap laki-laki mut’ahnya satu hari. Dan di dalam agama Syi’ah, perbuatan di atas dibolehkan, tidak terlarang bahkan semakin banyak mut’ah-nya seseorang semakin tinggi derajatnya di sisi Allah. Lantas, dengan cara apa kita membedakan perempuan-perempuan shalihah dengan pelacur! Dengan cara apa wahai kaum Rafidhah?

5. Menjauhkan kaum Muslimin dari nikah, khususnya para pemuda. Mereka telah asyik terbuai oleh nikah mut’ah-nya Syi’ah dengan berbagai macam alasan dan dalih yang semuanya terkumpul menjadi satu, yaitu syahwat zina! Selain itu mut’ah jauh lebih murah dan tidak perlu memberi dan boleh berganti pasangan seenaknya! Inilah yang terjadi pada pemuda-pemuda Syi’ah!

6. Percampuran mani antara satu laki-laki dengan laki-laki yang lain dalam satu perempuan. Karena seorang perempuan dalam beberapa hari saja dapat di mut’ah oleh beberapa orang laki-laki.

7. Dengan sebab di atas, maka seorang anak akan tidak mengetahui siapakah bapaknya? Ini disebabkan terlalu banyak laki-laki yang me-mut’ah ibunya!

8. Dan sebab di atas pula, maka tidak menutup kemungkinan seorang bapak di kemudian hari akan me-mut’ah anaknya sendiri!

9. Hilangnya beban dosa, sehingga mereka melakukannya dengan dada yang lapang dan ringan tanpa sedikitpun merasa berdosa besar. Bahkan mereka meyakini sebagai satu cara mendekatkan diri kepada Allah!? (baca kembali kedudukan mut’ah di dalam agama Syi’ah)

10. Kerusakan besar yang menimpa para pe-mut’ah ini khususnya para pemudanya ialah terjangkitnya berbagai macam penyakit kotor/penyakit kelamin seperti sipilis, AIDS dan lain-lain.

Itulah sebagian dari kerusakan nikah mut’ah agama Syi’ah, pengikut-pengikut Abdullah bin Saba’, sang penyebar fitnah dan kerusakan besar di dalam Islam dan kaum Muslimin. Hendaknya kaum Muslimin waspada dan hati-hati terhadap agama Syi’ah yang mengatasnamakan Islam ini. Dan kepada mereka yang tertipu oleh Syi’ah segeralah bertaubat kembali kepada Rabbul ‘Alamin!

Sampai di sini kita cukupkan dulu perkenalan kita dengan agama Syi’ah buatan kaum zindiq dan munafik. Mudah-mudahan banyak membawa manfaat bagi saudara-saudaraku kaum Muslimin sebagai pengetahuan bagi mereka tentang satu ajaran yang sesat dan menyesatkan dan menjadi shaf terdepan dari sekalian ajaran sesat dan kufur yang akan merusak Islam dan kaum Muslimin dari dalam

Minggu, 17 November 2013

Orang yang mencintai fitnah


Allamah Kanji Syafi’i meriwayatkan melalui sanadnya dari Huzaifah bin Yaman yang bertemu Umar bin Khatab. Saat itu Umar bin Khatab bertanya kepadanya, “Bagaimana kabarmu pagi ini, wahai Ibnu Yaman?”

Dia menjawab, “Bagaimana engkau menginginkanku pagi hari ini? Pagi ini, demi Allah, aku membenci kebenaran, menyukai fitnah, bersaksi dengan apa yang tidak aku lihat, menghafal selain makhluk, bershalat tanpa wudhu, di bumi aku memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Allah.”

Maka Umar bin Khatab marah mendengar jawabannya dan segera berlalu darinya. Umar bin Khatab bertekad menghukumi Huzaifah karena mengeluarkan pendapat tersebut. Dalam perjalanan Umar bin Khatab berpapasan dengan Ali bin Abi Thalib yang melihat amarah di wajah Umar bin khatab.

Ali bertanya, “Apa yang telah membuatmu marah, wahai Umar?”, Umar menjawab, “Aku bertemu Huzaifah bin Yaman, lalu bertanya tentang kabarnya pagi ini? Dia menjawab bahwa pagi ini dia membenci kebenaran.”

Ali bin abi Thalib menjawab, “Dia benar. Dia membenci kematian, dan kematian adalah haq (benar).” Umar berkata, “Tidak, dia berkata, “Aku mencintai fitnah.”

Ali menjawab, “Dia benar, dia mencintai harta dan anaknya. Bukankah Allah swt telah berfirman dalam al-Qur’an, “Sesungguhnya harta kalian dan anak-anak adalah fitnah…(al-Anfal:28).”

Umar berkata lagi, “Wahai Ali, dia berkata, “Aku bersaksi atas apa yang tidak aku lihat.” Ali menjawab, “Dia benar, dia bersaksi atas keesaan, kematian, kebangkitan, kiamat, surga, neraka dan shirath, padahal dia tidak dan belum melihat semua itu.”

Umar berkata lagi, “Wahai Ali, dia berkata, “Sesungguhnya aku menghafal selain makhluk Allah.” Ali menjawab, “Dia benar, dia hapal kitab Allah swt, al-Qur’an dan itu bukan makhluk Allah.”

Umar berkata, “Dia berkata, “Aku bershalat tanpa wudhu.” Ali menjawab, “Dia benar, shalat (shalat memiliki dua arti; shalat dan shalawat, maksud Huzaifah adalah shalawat –Allohuma shalli ala Muhamad wa aali Muhamad-) kepada putra pamanku, Rasulullah saww tanpa harus berwudhu, seperti itu diperbolehkan.”

Umar berkata, “Wahai Aba Hasan, dia berkata lebih dari itu.” “Apa yang dia katakan?” tanya Ali. Umar berkata, “Sesungguhnya di bumi ini, aku memiliki apa yang tidak dimiliki Allah swt.”

Ali menjawab, “Dia benar, dia memiliki anak istri dan Allah tidak memiliki anak dan tidak pula memiliki istri.” Lalu Umar berkata, “hampir saja putra Khatab celaka kalau tidak ada Ali bin Abi Thalib.” Kanji berkata, “Kisah ini banyak dinukil oleh para perawi, disebut oleh para sejarah”. [Kifayah ath-Thalib, Nudzum Durar as-Simthain, Nur al-Abshar, Faraid as-Simthain, Al-Fushul al-Muhimmah Ibnu Shibagh]

Kamis, 14 November 2013

Taubat dan Istighfar


Janganlah sekali-kali engkau berputus asa dari dosa karena pintu taubat senantiasa terbuka.

Meninggalkan dosa lebih mudah daripada bertobat.

Tidak ada pemberi syafaat yang lebih berhasil daripada taubat.

Pemberi syafaat bagi orang yang berdosa adalah pengakuan akan dosa itu, sedangkan taubatnya adalah memohon ampunan.

Jika engkau melakukan suatu perbuatan dosa, maka segeralah menghapusnya dengan bertaubat.

Banyak orang yang senantiasa berbuat dosa, tetapi dia bertaubat di akhir umurnya.

Aku sungguh heran terhadap orang yang berputus asa (karena dosanya), padahal masih ada kesempatan bertaubat baginya.

"Sungguh mengherankan bagi orang yang binasa (celaka), padahal keselamatan itu ada bersamanya." Imam 'Ali r.a. ditanya, "Apa keselamatannya itu, wahai Amirul Mu'minin?" Beliau menjawab, "Istighfar".


Istighfar menggugurkan dosa-dosa seperti gugurnya dedaunan. Kemudian Imam 'Ali r.a. membaca firman آلله Ta'ala; "Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampun kepada آلله niscaya dia mendapati آلله Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (Q.S. 4:110).

Pernah seseorang di hadapan Imam 'Ali r.a. mengucapkan "Astaghfirulloh" (Aku memohon Ampunan kepada آلله ), maka Imam 'Ali r.a. berkata kepadanya, "Semoga ibumu meratapi kematianmu. Tahukah kamu, apakah Istighfar itu? Istighfar adalah derajat orang-orang yang tinggi kedudukannya. Ia adalah nama yang berlaku pada enam makna;

Pertama, penyesalan yang telah lalu.
Kedua, bertekad untuk tidak kembali pada perbuatan dosa itu selamanya.
Ketiga, mengembalikan hak orang lain yang telah diambilnya (tanpa hak) sehingga kamu berjumpa dengan آلله dalam keadaan terlepas dari tuntutan seorang pun.
Keempat, hendaklah kamu memperhatikan setiap kewajiban atasmu yang sebelumnya telah kamu sia-siakan sehingga kamu dapat memenuhi kewajiban itu.
Kelima, hendaklah kamu perhatikan daging yang telah tumbuh dari hasil yang haram, lalu kamu kuruskan ia dengan kesedihan sehingga kulit menempel pada tulang, lalu tumbuh di antaranya daging yang baru (dari hasil yang halal).
Keenam, hendaklah kamu rasakan badanmu dengan sakitnya ketaatan, sebagaimana kamu telah merasakannya dengan manisnya kemaksiatan. Maka, ketika itulah, kamu layak mengucapkan "Astaghfirulloh"

Yaa آلله, tunjukanlah kepadaku kebaikan-kebaikanku dan bimbinglah aku pada jalan yang lurus. Yaa آلله, perlakukanlah aku dengan ampunan-Mu, dan janganlah Engkau perlakukan aku dengan keadilan-Mu.

Yaa آلله, sesungguhnya dosa-dosaku tidak merugikan-Mu, dan curahan rahmat-Mu kepadaku tidak mengurangi-Mu, maka ampunilah aku apa yang tidak merugikan-Mu, dan karuniailah aku apa yang tidak memberikan keuntungan bagi-Mu.

Yaa آلله, curahkanlah waktuku untuk memenuhi tujuan penciptaanku (beribadah), dan janganlah Engkau sibukkan diriku darinya karena sesungguhnya engkau telah menjamin bagiku dengannya. Janganlah Engkau tolak aku, padahal aku memohon kepada-Mu, dan janganlah siksa aku, padahal aku memohon ampun kepada-Mu.

Wahai orang yang banyak berbuat dosa, sesungguhnya ayahmu (Adam a.s.) dikeluarkan dari Surga hanya karena satu dosa.

Wangikanlah diri kalian dengan Istighfar, janganlah bau busuk dosa mencemari diri kalian.

Aku memohon ampunan kepada آلله atas apa yang aku miliki, dan aku menganggap baik apa yang tidak aku miliki.

Yaa آلله, ampunilah isyarat lirikan mata, ketergelinciran ucapan, nafsu hati, dan kekeliruan lidah (perkataan).

Selasa, 05 November 2013

ARTI DARI IJAB QOBUL


Saya Terima Nikahnya si dia binti ayah si dia dengan Mas Kawinnya.....DiBayaaaar Kontaaan.

Singkat, padat dan jelas..

Tapi tahukan makna PERJANJIAN/IKRAR tersebut..??

Maka aku tanggung dosa2nya si dia dari ayah dan ibunya, dosa apa saja yg telah dia lakukan, dari tidak menutup aurat hingga ia meninggalkan sholat..

Semua yang berhubungan dengan si dia, aku tanggung dan bukan lagi orang tuanya yang menanggung, serta akan aku tanggung semua dosa calon anak2ku..

Jika aku GAGAL..??

Maka aku adalah suami yang fasik, ingkar dan aku rela masuk neraka, aku rela malaikat menyiksaku hingga hancur tubuhku..

(HR. Muslim)

Duhai para istri :

Begitu beratnya pengorbanan suamimu terhadapmu, karena saat Ijab terucap, Arsy-NYA berguncang karena beratnya perjanjian yang di buat olehnya di depan ALLAH dengan di saksikan para malaikat dan manusia..

Maka andai saja kau menghisap darah dan nanah dari hidung suamimu..

Maka itupun belum cukup untuk menebus semua pengorbanan suami terhadapmu,SubhanALLAH..

Minggu, 03 November 2013

Keluasan Ilmu Ali Bin Abi Thalib


Ketika sayidina Ali diangkat menjadi khalifah dan umat silam membaiatnya beliau pergi ke masjid dengan memakai sorban dan selendang Rasulullah saw, memakai sandal Rasulullah saw lalu belliau naik mimbar dan duduk di atasnya sambil menyilangkan jari-jari kedua tangannya dan meletakan dekat perut.

Kemudian beliau berkata: "Maasyirannas...bertanyalah kepadaku sebelum kalian kehilanganku. Inilah wadah ilmu. Inilah air liur rasululah saw. Inilah yang Rasulullah saw tuangkan padaku berkali-kali. Bertanyalah kepadaku karena aku mempunyai ilmu-ilmu orang terdahulu dan orang-orang yang akan datang...”

Perkataan sayidina Ali itu tentu bukan sekedar omong kosong, tetapi sebuah kenyataan dan bukti kesiapan beliau untuk memberikan jawaban segala persoalan dan memberikan solusi yang tepat terhadap segala probela umat manusia.

Said bin al-Musayib berkata, “tidak ada seorangpun dari sahabat Rasulullah yang mengatakan itu kecuali Sayidina Ali bin Abi Thalib. Beliau berkali-kali mengatakan itu diatas mimbar” (usud al-Ghabah 4/22)
Sepanjang sejarah umat Islam ada beberapa orang yang bersesumbar seperti perkataan diatas, tapi akhirnya dipermalukan karenanya, seperti :

Muqotil bin Sulaiman, pada suatu saat duduk dan berkata,”betanyalah kepadaku tentang apa yang ada di bawah Arsy sampai Luyana.” Seorang bertanya kepadanya, “Adam ketika haji, siapa yang memotong rambutnya?” lalu dia (Muqotil) menjawab, “ini bukan pertanyaanmu, tetapi Allah berkehendak mempermalukanku atas keujubanku” (Tarikh al-Khatib a-Baghdadi 13 hal. 163)
Qatadah berkata, “bertanyalah kepadaku tentang alQuran! (niscaya aku menjawabnya). Abu Hanifah lalu bertanya kepada Qatadah, “bagaimana pendapatmu tentang Firman Allah :
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip".(Q.S 27:40)

Siapakan orang itu?”

Qatadah menjawab, “Dia adalah anak pamannya Sulaiman bin Dawud. Dia mengetahui nama Allah yang Sangat Agung.

“Apakah Sulaiman mengetahui nama (yang sangat agung) itu?” tanya Abu Hanifah lagi.

“tidak”. Jawab Qatadah yakin.

“subhanallah, berarti dihadapan seorang Nabi ada orang yang lebih pandai darinya.” Ujar Abu Hanifah.

“tanyakan persoalan lainnya!” Qatadah

“Apakah anda orang yang beriman?” tanya Abu Hanifah

“saya berharap seperti itu.” Jawab Qatadah

“mengapa anda tidak menjawab seperti nabi Ibrahim “ya, aku beriman.” (Q.S 2:260)
“Penganglah tanganku! Demi Allah, aku tidak akan datang ke kota ini lagi!” ujar Qatadah malu (a-Intiqa` hal 156)
Riwayat di atas saya kutip dari : Muhammad Ridha Al-Hakimi, Menungkap Utaian Kecerdasan Sayidina Ali Bin Abi Thalib(MUKSA), hal 11-16.

Bagaimana dengan Imam Ali? Beliau berkata, “Sebelum aku meninggalkan kalian,tanyakanlah kepadaku tentang alQuran. Demi Allah! Tidak satupun dari ayat al-Quran yang turun,kecuali RAsulullah membacakannya untukku, dan mengajarkan tafsirannya.”
Ibnu Abil Hadid menuturkan :

Umar Ibnu Khatab berkata kepada Ali bin Abi Thalib,”aku heran kepadamu wahai Ali, karena setiap kesulitan yang aku tanyakan kepadamu, engkau tidak pernah mengatakan tidak tahu, dan engkau selalu dapat menjawabnya secara langsung, bahkan tanpa berpikir sejenakpun.”

Lalu Imam Ali menunjukan lima jarinya ke hadapan Umar seraya berkata :
“wahai umar, berapakah ini?”

Seketika Umar menjawab, “lima.”

“ketahuilah wahai Umar! Sesungguhnya bagiku semua ilmu pengetahuan dan jawaban dari segala masalah adalah semudah engkau menjawab pertanyaanku tadi.”

(ilmu pengetahuan dan kebenaran itu jelas bagi Ali, seperti jelasnya Umar melihat lima jari tangan Ali).
Ammar bin Yasir bertutur :

Pada satu peperangan, aku dan Imam Ali bin Abi Thalibas melewati sebuah gurun yang dipenuhi oleh semut. Akupun berkata kepada imam Ali, “wahai Tuanku, apakah ada yang mengetahui jumlah semut ini?”

“ya Wahai Ammar, aku mengetahuinya.” Jawab Imam Ali.

“Bagaimana engkau mengetahuinya?” tanya Ammar lagi.

“wahai Ammar, tidakkah engkau membaca surah Yasin? Yang mengatakan :

وكل شيء أحصيناه في إمام مبين

Dan segala sesuatu kami kumpulkan dalam imam yang nyata
(Q.S 36:12) ?”

“Demi Allah, jiwaku ku korbankan untukmu, sesungguhnya aku telah membaca surah itu berkali-kali.” Ujar Ammar
“maksud dari Imamim-mubin yang tersebut dalam surah yasin itu adalah diriku.” (menukil dari tafsir Jami jil.5)

Keampuhan Do'a Jawsyan Kabir, Do'a yang Tiada Tandingannya


Semoga rahmat ta’zhim Allah senantiasa tercurah kepada baginda Muhammad, seorang Nabi yang Ummiyy, dan kepada keluarganya serta sahabat-sahabatnya, wa ba’du.

Ini merupakan Benteng Agung yang diberi nama "Hirzul Jausyan Al-Kabir". Semoga Allah memberikan manfaat dengan Hizib ini kepada umat Islam, amiin.

Hizib ini memuat 1001 Nama (Allah). Diriwayatkan dari Ja’far Ash-Shadiq berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Hizib ini mengandung rahasia-rahasia agung yang tidak dapat dijangkau akal-pikiran”.

Diriwayatkan dari Amirul Mu’minin (Sayyidina Ali ibn Abu Thalib), radhiyallahu ‘anhu wa karramallahu wajhah, berkata kepada putranya Al-Hasan: “Wahai, Putraku! Bersediakah engkau bila aku memberitahumu salah satu rahasia dari rahasia-rahasia kenabian?”

Al-Hasan menjawab: “Tentu, wahai Amirul Mu’minin”.

Sayyidina Ali berkata: “Malaikat Jibril ‘alaihis salam telah turun kepada Rasulullah Saw pada perang Uhud yang diberkahi. Hari itu adalah saat yang sangat panas, Nabi Saw membawa perisai yang amat berat sehingga beliau merasa tidak mampu membawa perisai tersebut karena suhu yang sangat panas. Kemudian beliau menengadahkan kepala ke langit dan berdoa kepada Allah SWT.

Beliau bersabda: “Tatkala aku berdoa kepada Allah SWT, aku melihat pintu-pintu langit terbuka dan turunlah Jibril As dan berkata:

“Wahai Rasulullah, (Allah) Yang Maha Luhur lagi Maha Tinggi menyampaikan Salam dan memberi kekhususan kepadamu dengan penghormatan dan kemulyaan serta berfirman kepadamu:

“Aku memberimu doa yang agung, yaitu doa Al-Jausyan”.

Kemudian aku bertanya: “Wahai saudaraku, Jibril! Doa yang agung ini khusus untukku atau untuk umatku secara umum?”

Jibril Menjawab: “Ini hadiah dari Allah SWT untukmu dan untuk umatmu semuanya”.

Lalu aku bertanya: “Apakah pahala yang diberikan dari doa ini?”

Kemudian Jibril menjawab: “Tidak ada yang mengetahuinya (dengan haqq) selain Allah SWT. Barang siapa membacanya dan membawanya ketika keluar dari rumahnya pada waktu pagi atau petang, atau pada waktu yang dikehendaki, maka diberilah ia pahala amal shaleh, (juga mendapat pahala) bagaikan membaca Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur`an yang agung. Akan tetapi jika yang membacanya adalah orang yang taat kepada Allah dan kepada Rasul-Nya serta menjauhi segala syahwat dan kesenangan”.

Lalu aku bertanya (lagi): “Dan apakah Allah akan memberikan semua pahala tersebut kepada setiap orang yang membaca doa yang agung ini?”

Jibril menjawab: “Ya. Bahkan Allah akan memberikan setiap huruf yang dibacanya dengan pahala dua bidadari yang bermata lentik didalam surga yang penuh perhiasan. Ditambah lagi, sebagai janji dari Allah, ketika telah selesai membaca doanya, Allah akan membangun untuknya sebuah istana di surga, dan Allah akan memberikan pahala yang setara dengan empat Nabi; yaitu Ibrahim, Musa, Isa dan Engkau wahai Muhammad”.

Aku bertanya: “Wahai saudaraku Jibril! Pahala ini untuk orang yang membacanya atau membawanya?”

Jibril Menjawab: “Demi Dzat Yang telah mengutusmu dengan Haqq sebagai Nabi. Sesungguhnya (ada suatu tempat/planet) di ujung barat yang tanahnya putih, didalamnya tinggal segolongan makhluk yang senantiasa menyembah kepada Allah dan tidak mendurhakai-Nya selamanya. Mereka sampai merobek-robek kulitnya karena menangis.

Kemudian Allah mewahyukan kepada mereka: “Mengapa kalian takut dan tidak pernah berbuat durhaka sekejap mata pun”.

Mereka berkata: “Kami khawatir apabila Engkau murka kepada kami dan mengazab kami dengan api neraka”.

Nabi Saw bertanya: “Wahai saudaraku Jibril! Apakah mereka anak keturunan Adam?”

Jibril menjawab: “Demi Dzat Yang telah mengutusmu dengan Haqq sebagai Nabi. Mereka tidak ada yang mengetahui bahwa Allah telah menciptakan Adam dan iblis. Di tempat mereka, matahari terbit setiap 40 hari sekali. Mereka tidak makan dan tidak minum. Dan sesungguhnya Allah akan memberikan pahala yang setara dengan ibadah (yang) mereka (lakukan) kepada orang yang memiliki doa ini, jika pemilik itu adalah orang yang beriman lagi tulus-bersih dari segala cela.

Rasulullah Saw bertanya: “Wahai saudaraku Jibril! (apakah) Allah akan memberikan semua pahala ini?”

Jibril menjawab: “Demi Dzat Yang telah mengutusmu dengan Haqq sebagai Nabi. Sesungguhnya Allah membangun sebuah rumah di langit keempat yang dinamakan Baitul Ma’mur. Setiap hari 70.000 Malaikat memasukinya dan keluar dari rumah itu seraya tidak kembali lagi sampai hari kiamat. Dan sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi orang yang membaca doa yang agung ini, sedangkan ia adalah orang yang beriman lagi tulus, yang setara dengan pahala orang yang beriman laki-laki dan perempuan dari golongan jin dan manusia sejak saat mereka diciptakan oleh Allah sampai hari kiamat.

Jibril menambahkan: “Demi Dzat Yang telah mengutusmu dengan Haqq sebagai Nabi. Sesungguhnya sebuah rumah yang bila didalamnya terdapat doa yang agung ini tidak akan terkena bencana selamanya. Dan barang siapa yang menulisnya pada kulit rusa dan mengalungkan (menempelkan) pada orang yang sakit, akan sembuh dengan izin Allah Ta’ala”.

Aku bertanya: “Wahai saudaraku Jibril! Keutamaan ini semuanya untuk orang yang memiliki doa ini?”

(Jibril menjawab): “Barang siapa membaca doa yang agung ini lalu mati, maka matinya adalah mati syahid dan dituliskan untuknya pahala 900.000 orang yang mati syahid di darat maupun di laut. (Dan jika) dibaca pada malam hari, Allah akan memberi ampunan dan memberinya segala apa yang diminta dari kebutuhan-kebutuhan dunia dan akhirat”.

Kemudian aku berkata: “Wahai saudaraku Jibril! Tambahkanlah (keterangan) kepadaku!”

Jibril menjawab: “Demi Dzat Yang telah mengutusmu dengan Haqq sebagai Nabi. Aku telah bertanya kepada saudaraku Malaikat Israfil tentang keutamaan doa yang agung ini. (Malaikat Israfil menjawab): “Allah Ta’ala berfirman:

"Demi keperkasaan-Ku, demi keagungan-Ku, demi kemurahan-Ku, demi kemulyaan-Ku. Barang siapa yang beriman kepada-Ku dan membenarkan Muhammad sebagai seorang Nabi dan membenarkan doa yang agung ini, Aku akan memberinya pahala yang tidak ada yang dapat menghitungnya kecuali Aku. Aku adalah Dzat yang bila Aku menghendaki sesuatu maka Aku berfirman kepadanya: Jadi, maka terjadilah. Aku adalah Dzat yang bila Aku memberikan kepada salah satu hamba-Ku, Aku memberikan kepadanya dengan tanpa takaran, tanpa timbangan, dan tanpa hitungan. Dan jika salah satu hamba-Ku membaca doa yang agung ini, maka hilanglah kesusahan lahir dan kesusahan batin dengan izin-Ku".

Beruntunglah bagi orang yang membaca doa yang agung ini dan percaya kepada Allah dan Rasul-Nya dan percaya kepada doa yang agung ini. Dan celakalah bagi orang yang mengingkarinya lagi tidak mempercayainya dan tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Wahai, utusan Allah! barang siapa menulis doa ini di gelas yang terbuat dari kaca dengan kapur dan minyak misik (kesturi) kemudian membasuhnya dan memercikkan air itu ke kafan orang mati, Allah SWT akan menurunkan di dalam kuburnya 100.000 rahmat. Dan Allah akan menghilangkan dari padanya dari ketakutan kepada Malaikat Munkar dan Nakir. Dan memberikan keamanan dari siksa kubur. Dan Allah akan mengutus 70 Malaikat untuk si mayit didalam kuburnya. Setiap Malaikat membawa segenggam cahaya dan menaburkan cahaya itu kepadanya dan memberikan kabar gembira dengan surga.

Dan para Malaikat itu berkata kepadanya: “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah memerintahkan kami untuk menemanimu di dalam kuburmu sampai hari kiamat”, dan Allah akan memberi keluasan kepadanya di dalam kuburnya sejauh mata memandang. Dan Allah akan membukakan baginya pintu ke surga serta menidurkan di dalam kuburnya bagaikan pengantin dengan pasangannya. Dan Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Aku merasa 'segan' kepada seorang hamba yang di kain kafannya ada doa ini”.

Jibril berkata: “Aku telah mendengar Allah Al-Bariy ‘Azza Wa Jalla berfirman:

“Doa ini telah tertulis pada bubungan 'Arsy, 5.000 tahun sebelum dunia diciptakan”.

Dan barang siapa berdoa dengan doa ini maka disisi Allah tergolong orang yang syahid, baik syahid darat maupun syahid laut.

Aku bertanya: “Wahai, saudaraku Jibril! apakah termasuk kedua-duanya (syahid darat dan syahid laut)?”

Jibril menjawab: “Wahai, Muhammad! Demi Dzat Yang telah mengutusmu dengan Haqq sebagai Nabi. Sesungguhnya Allah Ta’ala menuliskan untuknya setara pahala 900 orang yang mati syahid baik syahid darat maupun laut”.

Jibril menambahkan: “Wahai, Muhammad! Demi Dzat Yang telah mengutusmu dengan Haqq sebagai Nabi. Sesunggunya bila doa ini dibaca di waktu malam, sungguh Allah Azza Wa Jalla akan menggenggam (jiwa) seseorang ketika tidurnya dan menjaganya serta memberinya segala apa yang di minta dari hajat dunia dan akhirat”.

Aku berkata: “Wahai, saudaraku Jibril! Tambahilah (keterangan) kepadaku”.

Jibril menjawab: “Demi Dzat Yang telah mengutusmu dengan Haqq sebagai Nabi. Sesungguhnya Aku telah bertanya kepada Allah Ta’ala tentang itu. Allah Azza Wa Jalla berfirman:

“Demi keperkasaan-Ku, demi keagungan-Ku, demi kemurahan-Ku, demi kemulyaan-Ku, dan tingginya keluhuran-Ku didalam kedudukan-Ku, dengan kekuasaan-Ku, sesungguhnya barang siapa yang beriman kepada-Ku dan percaya kepadamu dan percaya kepada doa ini dan pahalaNya, niscaya Aku akan memberinya kerajaan. Sesungguhnya Aku adalah Allah yang tidak akan berkurang perbendaharaan-Ku dan tidak akan musnah apa yang ada disisi-Ku. Walaupun Aku menjadikan surga untuk salah seorang dari hamba-Ku, tidak akan menjadi berkurang perbendaharaan-Ku”.

Dan barang siapa berdoa dengan doa ini disertai niat yang tulus lagi bersih dan tidak tercampur dengan keraguan (dibaca) pada awal dan akhir bulan Ramadhan dan pada setiap malam Jum’at, Allah Ta’ala akan memberinya pahala dengan 70.000 Malaikat di setiap penjuru langit dan 70.000 Malaikat di kota Madinah, dan (diberikan pula) 70.000 Malaikat di arah Barat. Setiap Malaikat mempunyai 20.000 kepala. Dan setiap kepala mempunyai 70.000 mulut. Dan setiap mulut mempunyai 70.000 lidah yang bertasbih kepada Allah Ta’ala dengan bahasa yang berbeda-beda. Dan menjadikan pahala mereka untuk orang yang membaca doa ini.

Wahai, Nabiyullah! Barang siapa berdoa dengan doa ini, tidak ada penghalang antara dia dengan Allah, dan tidak ada sesuatupun yang dicari (diminta) selain bahwa Allah akan memberikan kepadanya.

Wahai, Utusan Allah! Setiap hamba yang berdoa dengan doa ini, Allah akan mengutus baginya ketika keluar dari kuburnya dengan 70.000 Malaikat. Di setiap tangan Malaikat terdapat bendera dari cahaya dan (diutus pula) 70.000 pelayan laki-laki. Setiap pelayan mengendalikan kendaraan yang sangat bagus yang bagian dalamnya terbuat dari mutiara dan bagian luarnya terbuat dari batu permata hijau, dan motif hiasannya terbuat dari permata yakut merah. Di atas setiap kendaraan tersebut terdapat kubah (yang terbuat) dari cahaya. Di setiap kubah terdapat 400 pintu dengan tirai (yang terbuat) dari sutra tipis yang berkilauan. Di setiap kubah terdapat pelayan wanita yang juntaian rambutnya seharum minyak misik (kesturi). Diatas kepala setiap pelayan itu terdapat mahkota dari emas yang kemerahan. Para Malaikat itu bertasbih kepada Allah Ta’ala, dan menyucikan-Nya, dan membaca tahlil kepada-Nya. Serta menjadikan pahala tasbih mereka, penyucian mereka, dan tahlil mereka untuk hamba yang beriman yang membaca serta berdoa dengan doa ini.

Setelah itu diutus pula 70.000 Malaikat dan setiap Malaikat membawa gelas piala yang terbuat dari mutiara putih. Di dalamnya terdapat empat jenis minuman, yaitu minuman dari air, minuman dari arak, minuman dari susu, dan minuman dari madu. Di setiap tutupnya terdapat sapu tangan yang bertuliskan:



Lâ ilâha illallâh wahdahu lâ syarîka lah (Tiada Tuhan selain Allah yang sendirian tak ada sekutu bagi-Nya):

Dan di bawahnya terdapat cincin/materai sebagai hadiah dari Allah Al-Bariy kepada Fulan Bin Fulan yang senantiasa tekun dan teratur membaca doa ini. Dan pembaca doa ini berkedudukan di pelataran hari kiyamat. sampai-sampai seluruh makhluk memperhatikannya dan bertanya-tanya: “Nabi siapa ini?”

Sedangkan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan dan pembantu-pembantu yang berkendaraan sangat bagus serta para Malaikat mengelilingi dari depan dan belakangnya, mereka mengiring (mengawal) sampai dibawah ‘Arsy. Kemudian ada seruan dari arah (Allah) Ar-Rahman:

“Wahai, hamba-Ku! Masuklah ke surga dengan tanpa hisab!”

Wahai, Utusan Allah! Siapapun hamba yang berdoa dengan doa ini Malaikat menjadi kelelahan dalam mencatat kebaikannya".

Aku bertanya: “Wahai, saudaraku Jibril! Balasan apa yang diberikan kepada orang yang berdoa dengan doa ini di awal dan akhir Ramadhan sebanyak tiga kali?”

Jibril menjawab: “Wahai, Muhammad! Sungguh Allah telah mengharamkan jasadnya tersentuh api neraka. Dan barang siapa berdoa dengan doa ini maka sesungguhnya baginya disisi Allah ketentuan dan kedudukan yang mulya. Dan barang siapa berdoa dengan doa ini, Allah mewakilkan Malaikat untuk menjaganya dari perbuatan maksiat, dan bertasbih kepada Allah, dan mengkuduskannya, dan menjaganya dari segala marabahaya. Dan membukakan baginya pintu-pintu surga yang tembus dengan pintu-pintu neraka. Dan selama ia hidup maka ia berada dalam perlindungan Allah Ta’ala, dan ketika wafatnya maka sungguh telah disediakan baginya apa-apa yang (dahulu) telah Kami tentukan kepadanya”.

Nabi Saw bersabda: “Berilah himbauan padaku tentang doa ini!”

Kemudian Jibril menjawab: “Takutlah kepada Allah… takutlah kepada Allah… Janganlah engkau mengajarkan doa ini kecuali kepada orang-orang yang beriman”.

Al-Husain ibn Ali ibn Abu Thalib karramallahu wajhah berkata: “Baginda Rasulullah mewasiatkan kepadaku untuk mengagungkan doa ini dan menjaganya.”

Kemudian Ali karramallahu wajhah wa radhiyallahu ‘anh berkata tentang hal ini: “Ada beberapa cerita tentang doa ini yang mengisahkan kecepatan terkabulnya permintaan. Dan doa ini memuat 1001 Nama yang telah dijadikan oleh Allah Ta’ala sebagai Perisai dan Pengaman bagi orang yang berdoa dengan doa ini dari perkara dunia dan akhirat, juga (doa ini adalah) obat”.

Nabi Saw bersabda: “Wahai, Ali! Ajarilah keluargamu dan teman-temanmu dan doronglah mereka (agar berdoa) dengan doa ini dan jadikanlah perantaraan kepada Allah Ta’ala dengan Nama-nama-Nya dan mengenal terhadap nikmat-nikmat-Nya, dan haramkan atas mereka jika mengajarkan doa itu kepada orang musyrik. Karena sesungguhnya tidak ada hajat yang diminta kepada Allah selain bahwa Allah akan memberikan kepadanya dan menjaganya dari apa-apa yang ditakutinya".

Nabi Saw bersabda: “Wahai, Ali! Saudaraku Jibril telah memberitahukan kepadaku tentang keutamaan doa ini, bahwa tidak ada yang mengetahui keutamaannya (dengan Haqq) selain Allah Ta’ala sendiri. Dan doa ini mengandung banyak khasiyat, sehingga kami meringkas penjelasannya karena khawatir memanjang-lebarkan. Maka, wahai orang yang memiliki hizib yang agung dan doa yang mustajab ini, berlaku atasmu bila engkau membacanya, (bahwa) walaupun setiap hari sekali, atau setiap Jum’at sekali, walaupun sekali tiap bulan, walaupun setiap tahun hanya sekali, dan sekalipun selama hidupmu hanya sekali: Jagalah dengan seksama. Karena sesungguhnya doa ini bermanfaat bagi orang yang membawanya atau membacanya dimanapun tempat yang dikehendakinya. Aku akan menuturkan kepadamu beberapa faedahnya ketika engkau membawanya dalam keadaan suci yang sempurna dan dengan niat yang tulus (bersih) dari keraguan. Karena sesungguhnya niat itu bermanfaat bagi yang memilikinya, sedangkan ikhlas lebih bermanfaat.

Doa ini bermanfaat untuk menguatkan rasa cinta-kasih, agar memudahkan dalam penerimaan sesuatu, untuk mengalahkan argumentasi lawan, untuk menghadapi hakim dan pemerintah, para sultan/pemimpin, para akuntan, untuk menghadapi musuh, untuk (keamanan) perjalanan siang dan malam, untuk menghindari sabetan pedang, tombak dan panah, untuk penyakit mata dan pandangan kabur, untuk membatalkan sihir, untuk melepaskan orang yang diikat, untuk melepaskan ikatan, untuk melepaskan tawanan, dan melepaskan orang yang dipenjara. (Dan faedahnya lagi bagi) yang membaca doa ini dan membawanya akan dibebaskan dengan izin Allah Ta’ala. Juga untuk menghadapi ular kecil, kalajengking, ular besar, untuk menghindari anak panah, untuk menolak segala alat dari besi, untuk mendatangkan hajat, untuk orang hamil agar mudah melahirkan, untuk pengantin agar berseri-seri, untuk mencegah peluru, (dengan syarat) ketika membawanya dalam keadaan suci dan dengan niat yang tulus (bersih) dari keraguan.

Maka, wahai orang yang memiliki Hizib ini, pertahankanlah kesungguhanmu dan jagalah doa ini, maka Allah akan menjagamu jika engkau menjaganya. Dan sungguh telah lepas dari tanggunganku kepada tanggunganmu dan aku berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Sebaik-baik Wakil, dan cukuplah Dia bagiku, dan kepada-Nyalah aku berserah diri”.

Doa ini telah dituturkan dan dibaca penjelasannya dengan memuji Allah SWT. Telah selesai penjelasan Hizib yang diberkahi ini yang dinamakan dengan “Hirzul Jawsyan”.

Perbandingan Nabi Muhammad saw dengan Nabi'' Sebelumnya


Bismillahirrahmanirrahim.

Perbandingan antara Rasulullah SAW dengan Para Nabi AS
Dari Musa bi Ja’far, dari ayahnya Ja’far Shadiq, dari ayah-ayahnya, dari al-Hussein bin Ali bin Abi Thalib, dikatakan bahwa seorang Yahudi dari Syam pernah membaca Taurat, Zabur, Injil dan kitab-kitab para Nabi AS, juga banyak mengetahui argumentasi mereka, datang ke sebuah majelis para sahabat Rasulullah SAW di antara mereka ada Sayyidina Ali, Ibnu Abbas r.a., dan Abu Ma’bad al-Juhani.

“Wahai umat Muhammad, kalian tidak tinggalkan satu derajat atau satu keistimewaan yang ada pada seorang nabi melainkan kalian berikan pula pada nabi kalian,” ujarnya. Lalu Yahudi itu bertanya, “Apakah kalian akan menjawab pertanyaan-pertanyaanku ini?”
“Benar,” Jawab Sayyidina Ali. “Tidaklah Allah SWT memberikan suatu derajat dan keistimewaan kepada seorang nabi atau rasul melainkan Allah berikan juga semuanya kepada Nabi Muhammad SAW, bahkan Dia melebihkannya atas para nabi berlipat ganda.”
“Apakah engkau siap menjawab pertanyaanku?” tanyanya.

Sayyidina Ali menjawab, “Ya. Aku akan sebutkan dihadapanmu sekarang juga tentang keistimewaan Rasulullah SAW sehingga kaum muslimin senang dan orang-orang yang ragu tidak akan meragukannya lagi. Dan Rasulullah SAW pada saat menyebutkan keistimewaan dirinya selalu berkata, ‘tidak bermaksud bangga (wa la fakhr).’ Dan aku menyebutkan keistimewaan-keistimewaan beliau tanpa menjatuhkan dan mengurangi kedudukan para Nabi AS, namun sekedar mensyukuri nikmat Allah Azza Wajalla atas anugerah yang Dia berikan kepada Baginda Muhammad SAW seperti yang diberikan kepada para nabi bahkan Allah SWT melebihkan beliau.”

1. Perbandingan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Adam AS
“Aku akan bertanya kepadamu, siapkanlah jawabannya!” Ujar orang Yahudi itu.
“Sampaikan pertanyaanmu.” Tegas Sayyidina Ali.
Yahudi berkata, “Lihatlah Adam AS, Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya. Apakah Allah SWT berbuat sama terhadap Muhammad?”
Sayyidina Ali menjawa, “Ya. Ketika Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam AS bukan berarti mereka menyembah Adam AS, tetapi mereka mengakui keutamaan Adam AS dan karena kasih sayang Allah kepadanya. Namun, Muhammad SAW telah diberi kehormatan yang lebih dari itu. Allah SWT bershalawat atasnya di alam Jabarut dan juga seluruhnya. Bahkan Allah menjadikan shalawat atasnya sebagai suatu ibadah bagi orang-orang mukmin. Itu adalah suatu keistimewaan Muhammad SAW, wahai orang Yahudi.” Jawab Sayyidina Ali.

Allah SWT berfirman : "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS. Al Ahzab:56)

“Sesungguhnya Allah telah mengampuni Adam setelah melakukan kesalahan.” Kata si Yahudi.
“Benar. Allah memberikan ampunan kepada Muhammad tanpa beliau melakukan kesalahan. Allah azza wa jalla telah berfirman, ‘Allah hendak mengampunimu dosa yang telah lalu dan yang akan datang.’ (QS. Al-Fath : 2).
“Sesungguhnya Muhammad SAW di hari kiamat kelak tidak akan membawa dosa dan tidak dituntut karena dosa.”

2. Perbandingan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Idris AS
Yahudi berkata, “Lihatlah Idris AS, Allah telah mengangkatnya ke tempat yang tinggi dan memberinya makanan surga setelah dia wafat.”

Sayyidina Ali menjawab, “Ya, itu benar. Muhammad SAW telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Sesungguhnya Allah SWT telah berfirman, ‘Dan telah Kami angkat sebutanmu.’ (QS. Al Insyiroh : 4). Itu sudah cukup untuk dijadikan suatu kemuliaan. Kalau Idris AS diberi makanan surga setalah di wafat, maka Muhammad SAW diberi makanan surga ketika masih hidup di dunia. Pernah ketika beliau lapar, maka datang Malaikat Jibril menemuinya membawa hidangan dari surga. Hidangan itu ternyata bertahlil, bertasbih, bertahmid dan bertakbir di tangan beliau. Kemudian beliau memberikannya kepada ahlul baitnya, lalu hidangan itu juga bertahlil, bertasbih, bertahmid dan bertakbir. Malaikat Jibril berkata bahwa hidangan ini hadiah dari surga yang diberikan Allah SWT khusus kepada Muhammad SAW. Hidangan ini tidak layak kecuali kepada Nabi dan penggantinya.”

3. Perbandingan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Nuh AS
“Lihatlah Nabi Nuh AS. Dia bersabar karena Allah SWT, dan dia memaafkan kaumnya bahkan disaat mereka mendustakannya.” Kata si Yahudi. “Ya, itu benar!” jawab Sayyidina Ali. “Demikianlah pula Nabi Muhammad SAW bersabar karena Allah telah memaafkan kaumnya pada saat mereka mendustakannya, mengusirnya dan melemparinya dengan kerikil. Abu Lahab pernah meletakkan di atas kepalanya kotoran, lalu Allah memerintahkan Malaikat Ja’abil (malaikat penjaga gunung) untuk menemui baginda Muhammad SAW. Malaikat Ja’abil mengatakan kepada baginda Muhammad SAW, ‘bahwa dirinya diperintahkan oleh Allah untuk mentaatimu. Apabila Engkau ingin agar aku menghimpit mereka dengan gunung, maka akan aku binasakan mereka.” Kata Malaikat Ja’abil.
“Aku diutus sebagai rahmat.” Kata beliau. Nabi bahkan mendoakan mereka, “Ya, Allah, berilah umatku ini hidayah karena mereka belum mengetahui.”

Orang Yahudi itu kembali berkata, “Nabi Nuh AS berdoa kepada Tuhannya, lalu turunlah hujan deras dari langit.”
“Ya itu benar. Nabi Nuh AS berdoa dalam keadaan marah sementara hujan deras diturunkan Allah SWT karena kasih sayang.” Jawab Sayyidina Ali. “Ketika Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, datang penduduk Madinah pada hari Jum’at kepada beliau. ‘Wahai Rasulullah, sudah lama hujan tidak turun. Pohon-pohon menguning (kering), dedaunan berjatuhan,’ keluh mereka. Lalu beliau mengangkat kedua tangannya, sehingga tampak putih lipatan pangkal kedua tangannya. Langit yang semula bersih tidak berawan, tiba-tiba berubah menjadi gelap dan turunlah hujan yang deras, begitu derasnya sehingga seorang pemuda yang gagah perkasa hampir mati karena pulang ke rumahnya karena derasnya hujan yang mengakibatkan banjir. Kejadian itu berlangsung selama seminggu. Mereka kembali mendatangi beliau pada hari Jum’at berikutnya, “Ya Rasulullah, rumah-rumah menjadi hancur, kendaraan dan transportasi terhenti.” Keluh mereka lagi. Beliau tersenyum sejenak, “Beginilah cepatnya manusia bosan.” Kata beliau. Lalu beliau berdoa, “Ya Allah, jadikanlah ini semua menguntungkan kami dan tidak membahayakan kami.” Maka hujanpun mulai reda di sekitar kota Madinah sedangkan di kota Mandinah sendiri hujan berhenti total. Itulah mukjizat Nabi Muhammad SAW.”

4. Perbandingan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Hud AS
Yahudi berkata, “Lihatlah Nabi Hud AS, karena Allah SWT telah menolongnya dengan mengirimkan angin, apakah Allah berbuat yang serupa terhadap Nabi Muhammad?” Tanyanya.
“Ya itu benar!” Jawab Sayyidina Ali. “Nabi Muhammad SAW telah diberitahu sesuatu yang lebih dari itu. Allah juga telah menolonngnya dari musuh-musuhnya dengan angin dalam perang Badr. Allah mengirimkan anging kencang sehingga kerikil-kerikil berterbangan, lebih dari itu Allah memperkuat pasukan beliau dengan delapan ribu pasukan malaikat. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah atas kalian, ketika datang kepada kalian tentara-tentara, lalu Kami kirim kepada mereka angin dan pasukan yang tidak kalian lihat.” (QS Al- Ahzab : 9).

5. Perbandingan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Saleh AS
Orang Yahudi berkata : “Lihatlah Nabi Saleh AS,” ujar Yahudi. “Allah telah menciptakannya untuknya seekor unta dari batu sebagai mukjizat.

Sayyidina Ali menjawab, “Ya itu benar.” Kemudian beliau melanjutkan, “Nabi Muhammad SAW telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Kalau unta Nabi Saleh tidak berbicara dan tidak bersaksi atas kenabiannya, maka ketika kita bersama beliau dalam sebuah peperangan, tiba-tiba datang seekor unta mendekatinya bersuara dan berbicara, “Ya Rasulullah, sesungguhnya si fulan telah menggunakanku sampai aku besar dan kini dia hendak menyembelihku. Aku berlindung kepadamu darinya.” Kemudian beliau memanggil pemilik unta itu dan meminta unta darinya. Orang itu memberikannya kepada beliau.

Juga ketika kami bersama beliau, tiba-tiba datang seorang Arab dari pedalaman menuntun untanya. Orang pedalaman itu hendak dipotong tangannya karena ulah para saksi yang telah memberikan kesaksian palsu. Kemudian unta itu, berbicara dengan beliau, “Ya Rasulullah, sesungguhnya orang ini tidak berdosa, para saksi yang ini memberikan kesaksian secara paksa. Sebenarnya pencuriku adalah seorang Yahudi.”

6. Perbandingan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Ibrahim AS
Orang Yahudi berkata, “Lihatlah Nabi Ibrahim AS, karena dia telah mengetahui Allah SWT dengan perenungan (i’tibar). Pembuktiannya telah meliputi keimanan terhadap-Nya.”

Sayyidina Ali berkata, “Ya benar. Nabi Muhammad SAW telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Beliau telah mengenal Allah SWT dengan i’tibar sebagaimana Nabi Ibrahim AS. Namun, Nabi Ibrahim AS mengenal Allah dalam usia lima belas tahun sementara Rasulullah SAW mengenal-Nya semenjak usia tujuh tahun. Pernah sejumlah pedagang Nasrani datang. Mereka menurunkan dagangan mereka di antara bukit Shafa dan Marwa. Sebagian dari mereka melihat beliau, Muhammad SAW lalu mereka mengetahui sifat, karakter, dan berita akan kebangkitannya sebagai nabi dan mereka mengetahui beberapa mukjizatnya.

Para pedagang Nasrani itu bertanya kepada Muhamamd SAW, “Wahai anak kecil, siapa namamu?” Beliau menjawab, “Muhammad.” Mereka bertanya, “Siapa nama ayahmu?” Beliau menjawab, “Abdullah.” Mereka bertanya, “Apa nama ini (mereka bertanya sambil menunjuk bumi)?” Beliau menjawab, “Bumi.”

Mereka bertanya, “Apakah nama itu (mereka bertanya sambil menunjuk langit)?” Beliau menjawab, “Langit.” Mereka bertanya, “Siapa yang menciptakan bumi dan langit?” Beliau menjawab “Allah.” Lalu Muhammad SAW menyentak mereka, “Apakah kalian meragukan tentang Allah SWT? Celaka kamu, wahai Nasrani.” Beliau telah mengetahui Allah dengan i’tibar pada saat kaumnya kufur, bersumpah dan menyembah patung-patung, tetapi beliau berkata, “Tiada Tuhan selain Allah.”

Orang Yahudi berkata kembali, “Nabi Ibrahim AS telah terhijabi dari mata Namrud sebanyak tiga kali.”
Sayyidina Ali berkata, “Ya benar. Namun Nabi Muhammad SAW telah terhijabi dari dari mata orang-orang yang hendak membunuhnya sebanyak lima kali. Sama tiga jumlahnya dan bahkan lebih dua.

Kelima hijab yang dimaksud adalah ketika Allah berfirman : ‘Dan Kami jadikan penutup dihadapan mereka, adalah hijab (penutup) yang pertama.’ Dan dari belakang mereka,’ adalah hijab kedua. ‘Lalu Kami tutup mata mereka sehingga tidak dapat melihat,’ (QS Yaasin : 9) adalah hijab ketiga. Hijab yang keempat adalah firman Allah SWT yang berbunyi,

“Dan apabila kamu membaca Al Qur’an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup.” (QS al-Isra’ : 45)

Sedangkan hijab yang kelima adalah firman Allah SWT yang berbunyi,
“Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah.” (QS Yassin,8)

Orang Yahudi berkata, “Sesungguhnya Nabi Ibrahim AS telah membungkan mulut orang kafir dengan kenabiannya.”
Sayyidina Ali berkata, “Benar! Pernah Nabi Muhammad SAW didatangi orang yang mendustakan hari kebangkitan setelah kematian, orang itu adalah Ubai bin Khalaf al-Jumahi, dia membawa tulang yang hancur lalu berkata, “Wahai Muhammad, siapakah yang akan menghidupkan kembali tulang belulang ini padahal sudah hancur?” Lalu Allah SWT menurunkan atas Muhammad sebuah ayat yang membungkam mulut orang itu,

“Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk” (QS Yassin : 79)

Akhirnya orang itupun pergi terbungkam. Orang Yahudi berkata, “Nabi Ibrahim telah menghancurkan patung-patung kaumnya dengan marah karena Allah SWT.”

Sayyidina Ali berkata, “Ya benar. Nabi Muhammad SAW telah merobohkan tiga ratus enam puluh patung di dalam Ka’bah dan membersihkan semenanjung Arabia dari patung-patung serta mengalahkan orang-orang yang menyembah patung dengan pedang.”
Orang Yahudi berkata, “Nabi Ibrahim AS pernah dilemparkan oleh kaumnya ke dalam api, tetapi dia pasrah dan sabar, akhirnya Allah menjadikan api itu dingin dan menyelamatkannya. Apakah Allah berbuat yang sama terhadap Muhammad?”

Sayyidina Ali berkata, “Ya benar. Ketika Nabi Muhammad pergi ke Khaibar, seseorang wanita Khaibar meracuninya, tetapi Allah menjadikan racun itu dingin (tidak bereaksi) di dalam perutnya sampai akhir wafatnya. Padahal racun itu, jika berada di dalam perut akan membakar seperti api yang membakar. Itu adalah kekuasaan-Nya, janganlah kamu mengingkarinya.”

7. Perbandingan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Ya’qub AS
Orang Yahudi berkata, “Lihatlah Nabi Ya’qub AS. Dia mendapatkan nasab (keturunan) yang sangat besar. Allah menjadikan para Nabi dari tulang rusuknya. Maryam putri Imran adalah termasuk keturunannya.”

Sayyidina Ali berkata, “Ya benar. Nabi Muhammad mendapatkan nasab yang lebih besar. Allah menjadikan Fathimah, wanita penghulu alam raya, sebagai putrinya. Al-Hasan dan al-Hussein sebagai cucunya.

Orang Yahudi berkata, “Nabi Ya’qub bersabar karena perpisahan putranya sampai-sampai dia hampir sakit parah karena sedih.”
Sayyidina Ali berkata, “Ya itu benar. Nabi Ya’qub benar-benar sedih, namun kesedihannya berakhir dengan perjumpaan. Tetapi Nabi Muhammad ketika putranya yang tersayang, Ibrahim, diambil selagi beliau masih hidup. Allah mengujinya agar beliau mendapat simpanan yang besar nanti. Beliau bersabda, “Jiwa pilu dan hati terluka. Dan kami sangat sedih atasmu wahai Ibrahim. Kami tidak mengatakan sesuatu yang memurkakan Allah.” Dalam semua itu, beliau mengutamakan kerelaan terhadap Allah SWT dan pasrah kepada-Nya dalam segala perbuatan.”

8. Perbandingan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Yusuf AS
Orang Yahudi berkata, “Lihatlah Nabi Yusuf AS, dia menyimpan pahitnya perpisahan. Dia dijerumuskan ke dalam penjara demi menghindari kemaksiatan. Dia dilemparkan ke dalam lubang yang gelap sebatang kara.”

Sayyidina Ali berkata, “Ya itu benar. Nabi Muhammad menyimpan pahitnya keterasingan. Beliu meninggalkan keluarga, anak dan harta untuk berhijrah dari Haramullah (Ka’bah, Mekah). Ketika Allah melihat kesedihan dan perasaan pilu, Allah memperlihatkan kepadanya sebuah mimpi yang menyamai mimpinya Nabi Yusuf AS dalam takwilnya dan Allah membuktikan kebenaran mimpinya kepada seluruh alam raya.

Allah SWT berfirman :
“Sungguh, Allah akan Membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, jlka Allah Menghendaki dalam keadaan aman, dengan menggundul rambut kepala dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah Mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan selain itu Dia telah Memberikan kemenangan yang dekat.” (QS al-Fath, 27).

Kalau Nabi Yusuf AS ditahan dalam penjara, maka Rasulullah SAW dipenjara di Syi’ib selama tiga tahun. Beliau diisolir dari sanak family dan kerabatnya. Allah SWT telah memperdaya mereka (orang-orang kafir Quraisy) dengan mengutus makhluk-Nya yang paling lemah (rayap), lalu rayap itu memakan surat perjanjian yang mereka tulis.

Kalau Nabi Yusuf AS dilemparkan ke dalam lubang gelap, maka Nabi Muhammad SAW telah menyembunyikan dirinya di dalam gua karena ulah musuhnya, sampai-sampai beliau berkata kepada sahabatnya, “Janganlah kamu sedih. Sesungguhnya Allah SWT bersama kita,” Allah memujinya dalam kitab-Nya.

9. Perbandingan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Musa AS.
Orang Yahudi berkata : “Lihatlah Nabi Musa bin Imran as. karena Allah telah memberinya Taurat yang memuat hukum-hukum.”
Sayyidina Ali berkata, “Ya itu benar. Nabi Muhammad SAW telah diberi sesuatu yang lebih dari itu.

Nabi Muhammad SAW telah diberi surat al-Baqarah dan al-Maidah yang sama dengan Kitab Injil, beliau juga diberi surat Thawasin (surat-surat yang didahului dengan huruf Tha, Sin), surat Thaha, sebagian surat-surat al-Mufashshal (yang sedang sehingga sering dipisah-pisah) dan al-Hawamim (surat-surat yang dimulai dengan Ha, Mim) yang sama dengan kitab Taurat, beliau juga diberi sebagian surat-surat al-Mufashshal dan surat-surat yang didahului dengan Shabbaha yang sama dengan kitab Zabur; beliau diberi surat Bani Israil dan surat Bara’at yang sama dengan shuhuf Ibrahim AS dan shuhuf Musa AS, kemudian Allah SWT menambah beliau dengan as-Saba’ath Thiwal (tujuh surat yang terpanjang) dan surah al-Fatihah.”

Orang Yahudi berkata, “Sesungguhnya Nabi Musa AS dipanggil untuk bermunajat kepada Allah di atas bukti Sina.”
Sayyidina Ali berkata, ‘Ya itu benar. Allah telah mewahyukan kepada Muhammad SAW di Sidratul Muntaha. Kedudukan beliau di langit terpuji dan di Sidharatul Munthaha beliau disebut-sebut.

Orang Yahudi berkata, “Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku.” (QS Thaha, 39). Allah telah memberikan kasih sayang kepada Musa AS.’

Sayyidina Ali menjawab,”itu benar, tetapi Allah telah memberikan kepada Nabi Muhammad SAW sesuatu yang lebih mulia dari itu. Selain Allah memberikan kasih sayang kepadanya, Dia juga telah menyertakan nama Muhammad dengan nama-Nya sehingga syahadat tidak sempurna kecuali dengan ungkapan, “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Ikrar itu disebut-sebut di atas mimbar, maka tidak dikumandangkan sebutan Allah kecuali dikumandangkan pula sebutan Muhammad SAW.’

Orang Yahudi berkata, ‘Nabi Musa AS telah diutus untuk menghadapi Fir’aun dan memperlihatkannya kepadanya tanda yang besar.”
Sayyidina Ali berkata : “Itu benar, Nabi Muhamamd SAW juga diutus untuk menghadapi beberapa Fir’aun, seperti Abu Jahal, Utbah bin Rabi’ah, Syaibah, Abi al Bukhari, Nidhir bin Harits, Ubai bin Khalaf, dan diutus kepada lima orang yang dikenal dengan para pengolok-olok, al-Walid bin al-Mughirah al-Makhzumi, al-‘Ash bin Wa’il al-Suhami, Aswad bin Abd Yaghuts az Zuhri, Aswad bin al-Muthalib dan al-Harits bin Thalathilah. Maka beliau memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda yang besar di alam raya ini dan di dalam diri mereka sendiri sehingga jelas bagi mereka bahwa Dia itu benar.”

Orang Yahudi berkata, “sesungguhnya Musa bin Imran telah diberi tongkat yang berubah menjadi seekor ular.”

Sayiddina Ali menjawab, ‘Ya itu benar, Nabi Muhammad SAW telah diberi sesuatu yang lebih hebat daripada itu. Pernah ada seseorang yang menuntut hutang kepada Abu Jahal bin Hisyam seharga seekor kambing yang dia beli dari orang itu. Tetapi Abu Jahal tidak memperdulikannya. Dia tengah asyik duduk sambil minum-minuman keras. Setiap kali orang menagihnya, tetapi tidak berdaya sama sekali dan selalu diacuhkan oleh Abu Jahal. Beberapa orang disekitar itu berkata kepada orang tersebut sambil menghina, “siapa yang kamu tagih?”

“Amr bin Hisyam (abu Jahal). Dia mempunyai hutang kepadaku,” Mereka berkata, “Maukah kami tunjukkan orang yang mampu menjalankan hak-hak?” Orang itu berkata ‘Ya.” Mereka lalu menunjukkan Nabi Muhammad SAW.

Pada saat Abu Jahal mengetahui rencana orang tersebut yang meminta pertolongan kepada Nabi Muhammad SAW, Abu Jahal berkata dalam hatinya, “Mudah-mudahan Muhammad datang kepadaku dan membutuhkanku, sehingga aku dapat mempermalukannya.” Orang yang sedang menuntut haknya itu datang kepada Nabi Muhammad SAW seraya berkata, “Wahai Muhammad, aku mendengarkan bahwa hubungan antara dirimu dengan Amr bin Hisyam baik. Aku datang minta bantuan dirimu.”

Kemudian beliau pergi bersamanya manghadap Abu Jahal. Beliau berkata,’Bangunlah wahai Abu Jahal. Berikan kepada orang ini haknya.’ Lalu Abu Jahal segera bangun dan memberikan kepada orang haknya. Ketika Abu Jahal kembali ketempat semula, teman-temannya berkata, ‘Kamu mengerjakan itu karena takut kepada Muhammad?’, Abu Jahal berkata, ‘Celaka kalian, maafkan aku. Sesungguhnya ketika dia datang, aku lihat di sebelah kanannya orang-orang yang membawa pisau yang bersinar dan disebelah kirinya ada dua ekor ular yang menampakkan giginya dan dari matanya keluar sinar. Sekiranya aku menolak, maka perutku tidak aman dari tikamannya dan aku akan diterkam ular itu, dan itu lebih berat bagiku daripada memberikan hak.’

Ketika Nabi Muhammad SAW mengajak ketauhid dan menyalahkan kemusyrikan, para tokoh kaum musyrikin marah, lalu Abu Jahal berkata, “Demi Allah mati lebih baik bagi kita daripada hidup. Tidak adakah diantara kalian, wahai kaum Quraisy, seorang yang akan membunuh Muhammad?” Mereka menjawab, ‘Tidak ada.’ “kalau begitu saya yang akan membunuhnya,’ Seandainya keluarga Abdul Muthalib akan menuntut balas, biarlah aku yang terbunuh, kata Abu Jahal. Mereka lalu berkata, “Sesungguhnya jika kamu melakukan itu, maka telah berbuat kebaikan yang akan selalu diingat.”

Kemudian Abu Jahal pergi ke Masjid al-Haram dan melihat Rasulullah SAW berthawaf sebanyak tujuh putaran, kemudian beliau sholat dan sujud sangat lama. Kemudian Abu Jahal mengambil batu dan membawanya ke arah kepala Nabi Muhammad SAW, ketika dia telah mendekatinya, datanglah unta jantan dari arah beliau dengan membuka mulutnya ke arah Abu Jahal.

Melihat itu, Abu Jahal ketakutan dan diapun gemetaran, maka batu itu jatuh melukai kakinya, kemudian dia pulang dengan muka yang pucat dan berkeringat. Kawan-kawannya bertanya, ‘Kami tidak pernah melihat kamu seperti sekarang ini.” Abu Jahal berkata, ‘Maafkan aku, aku sungguh melihat unta jantan yang membuka mulutnya dari arah Muhammad, ia hampir menelanku, maka aku lempar batu itu dan mengenai kakiku.”
Orang Yahudi berkata, “Nabi Musa AS telah diberi tangan yang keluar darinya cahanya putih. Apakah Muhammad mempunyai hal seperti itu?”

Sayiddina Ali berkata, “Ya itu benar. Nabi Muhammad SAW diberi sesuatu yang lebih dari itu. Sesungguhnya terpancar dari sebelah kanan dan sebelah kirinya cahaya setiap kali beliau duduk. Cahaya itu disaksikan oleh semua orang.”

Orang Yahudi berkata, “Nabi Musa dapat membuat jalan di laut. Apakah Muhammad dapat berbuat semacam itu?”

Sayyidina Ali menjawab, “Itu benar, Nabi Muhammad SAW telah berbuat sama. Ketika kami keluar dalam perang Hunain, kami menghadapi danau yang kami perkirakan sedalam empat belas kaki dari ketinggian badan manusia. Mereka berkata, “Ya Rasulullah, musuh di belakang kita sedangkan danau di depan kita, seperti yang dikatakan kaum Nabi Musa AS, ‘Kita akan terkejar.’ Lalu Rasulullah SAW turun dan berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau jadikan untuk setiap utusan sebuah bukti, maka perlihatkanlah kepadaku kekuasaan-Mu.” Kemudian kami mengurangi lautan dengan menunggangi kuda dan unta yang kakinya tidak basah. Lalu kami pulang dengan kemenangan.

Orang Yahudi berkata, “Nabi Musa AS telah diberi batu, kemudian batu itu mengeluarkan dua belas mata air.”
Sayyidina Ali berkata, “Ya itu benar. Ketika Nabi Muhammad SAW turun di Hudaibiyah dan diboikot oleh penduduk Mekah, beliau diberi sesuatu yang lebih hebat dari itu. Pada waktu itu, sahabat-sahabat beliau mengadu kepada beliau. Mereka kehausan sehingga pangkal tulang kuda mereka menonjol. Kemudian beliau mengambil kain Yaman dan meletakkan tangannya di atas kain itu, lalu keluarlah air di sela-sela jari jemari beliau. Kami merasa kenyang demikian pula kuda-kuda kami, bahkan kami penuhi kantong-kantong air.”

Orang Yahudi berkata, “Nabi Musa AS telah diberi burung dan manisan dari langit (al manna wa salwa’). Apakah Muhammad juga diberi sesuatu sama seperti itu?”

Sayidinna Ali berkata, “Ya itu benar.” Nabi Muhammad SAW diberi seuatu yang lebih dari itu. Sesungguhnya Allah SWT menghalalkan harta rampasan perang untuk beliau dan umatnya, dan tidak dihalalkan untuk siapa pun sebelumnya. Dan ini lebih utama dari manna dan salwa’. Kemudian lebih dari itu, Allah SWT menganggap niat beliau dan umatnya sebagai amal kebaikan, dan tidak menganggapnya amal kebaikan untuk seseorang sebelum beliau. Oleh karena itu, jika seseorang hendak berbuat kebaikan tapi belum mengerjakannya, maka ditulis untuknya suatu kebaikan, dan jika dia mengerjakannya, maka ditulis sepuluh kebaikan.”

Allah berfirman : "Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (QS. Al An'am:160)

10. Perbandingan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Dawud AS.
Orang Yahudi berkata : “Lihatlah Nabi Dawud AS, sebab Allah telah memberinya kekuatan untuk melunakkan besi, kemudian dengan kekuatannya dia membuat baju besi.”

Sayyidina Ali berkata, “Ya itu benar.” Nabi Muhamamd SAW telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Allah telah memberiya kekuatan untuk membuat gua dari batu gunung yang keras. Batu Shakhrah di Baitul Maqdis menjadi cekung dengan tangan beliau, dan kami telah melihatnya.”

Orang Yahudi berkata, “Nabi Dawud AS menangis karena kesalahan dan kekhilafannya sehingga gunung bergetar karena takut tangisan darinya.”

Sayyidina Ali berkata, “Ya itu benar.” Nabi Muhammad SAW telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Sesungguhnya beliau jika mendirikan sholat, terdengar dari dadanya suara gemuruh seperti gemuruh bejana yang berisi air panas yang mendidih karena isak tangisnya yang sangat, padahal Allah telah membebaskannya dari siksa-Nya. Beliau berdiri sholat di atas kakinya puluhan tahun sehingga bengkak kedua telapak kakinya dan pucat pasi wajahnya. Beliau sholat sepanjang malam sehingga Allah menegurnya.’
Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah.(QS Thaahaa, 1-2)

Terkadang beliu menangis sampai pingsan, seorang bertanya kepadanya, “Bukankah Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab, “Benar. Namun tidakkah aku pantas menjadi hamba yang banyak bersyukur.”

11. Perbandingan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Sulaiman AS
Orang Yahudi berkata, “Lihatlah Nabi Sulaiman AS, karena dia telah diberi kerajaan yang tidak layak diberikan kepada siapapun setelahnya.”

Sayyidina Ali berkata : “Ya itu benar.” Nabi Muhammad SAW telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Telah turun kepadanya satu malaikat yang tidak pernah turun kepada siapapun sebelumnya, yaitu Malaikat Mikail. Malaikat Mikail berkata kepada beliau, ‘Ya Muhammad. Hiduplah kamu menjadi seorang raja yang senang. Untukmu kunci-kunci khazanah bumi. Tunduk kepadamu gunung dan batu dari emas dan perak. Itu semua tidak mengurangi apa yang tersimpan untukmu di akhirat kelak sedikitpun.” Lalu dia menunjuk Malaikat Jibril AS dan meminta darinya agar bertawadlu’.

Kamudian Nabi Muhammad SAW bersabda : ‘Tidak, tetapi aku ingin hidup sebagai nabi dan hamba. Sehari makan dan dua hari tidak makan. Aku ingin bergabung dengan saudara-saudaraku dari kalangan nabi sebelumku.’ Maka Allah memberinya telaga kautsar dan hak syafaat. Ini lebih besar 70.000 kali lipat dari kerajaan dunia dari permulaan sampai akhir. Dan Allah menjanjikan kedudukan yang terpuji (al maqam al Mahmud). Di hari kiamat nanti Allah akan mendudukannya di atas Arsy. Itu semua lebih mulia dari apa yang telah diberikan kepada Nabi Sulaiman bin Dawud AS.’

Orang Yahudi berkata. “Angin telah diciptakan untuk Nabi Sulaiman AS. Angin itu membawa pergi Sulaiman di negerinya dalam sebuah perjalanan, perginya satu bulan dan pulangnya satu bulan.”

Sayyidina Ali berkata, ‘Ya itu benar.’ Nabi Muhammad SAW telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Dia telah diisra’kan dari Masjid al Haram ke Masjidil al Aqsa, yang biasa ditempuh satu bulan, lalu di bawa naik ke kerajaan langit, yang memerlukan waktu lima puluh ribu tahun, dalam waktu kurang dari sepertiga malam.’
Orang Yahudi berkata, “Telah diciptakan jin-jin untuk taat kepada Nabi Sulaiman AS. Mereka bekerja untuk Sulaiman ketika membuat mihrab dan patung.”

Sayyidina Ali berkata, “Ya itu benar.” Nabi Muhammad SAW telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Jin-jin diciptakan untuk taat kepada Nabi Sulaiman AS, tetapi mereka dalam keadaan kafir, sementara jin-jin diciptakan untuk taat kepada Nabi Muhammad SAW dalam keadaan beriman. Telah datang kepada beliau sembilan tokoh jin dari Yaman dan dari Bani Amr bin Amir. Mereka adalah Syashot, Madhot, Hamlakan, Mirzaban, Mazman, Nadhot, Hashib, Hadhib dan Amr. Merekalah yang disebutkan dalam al-Qur’an.’
‘Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Qur’an), lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang menakjubkan. (QS al-Jin : 1).’
‘Mereka berbaiat kepada beliau untuk menjalankan puasa, sholat, zakat, haji dan jihad. Ini lebih hebat dari yang diberikan kepada Nabi Sulaiman AS.”

12. Perbandingan Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Yahya AS
Orang Yahudi berkata, ‘Lihatlah Nabi Yahya bin Zakaria AS karena dia waktu kecil telah diberi hikmah, kebijaksanaan dan pemahaman. Dia menangis tanpa berbuat kesalahan dan dia senantiasa berpuasa terus menerus.”
Sayyidina Ali berkata, “Ya itu benar. Nabi Muhammad SAW telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Nabi Yahya AS hidup pada masa tiada berhala-berhala dan kejahiliahan.”

Sementara Muhammad pada masa kecilnya telah diberi hikmah dan pemahaman di tengah para penyembah berhala dan setan. Beliau sama sekali tidak menyukai berhala, tidak pernah aktif dalam upacara-upacara mereka dan tidak pernah berdusta sama sekali. Beliau seorang yang jujur, terpercaya dan bijaksana. Beliau senantiasa menyambung puasa dalam seminggu, terkadang kurang dan terkadang lebih. Beliau pernah berkata, “Aku tidak seperti kalian. Aku berada di samping Tuhanku. Dia Yang memberiku makan dan minum.” Beliau selalu menangis sehingga air matanya membasahi tempat sholatnya karena takut kepada Allah SWT tanpa kesalahan.

13. Perbandingan Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa AS
Orang Yahudi berkata, “Lihatlah Nabi Isa bin Maryam AS. Mereka meyakini bahwa dia dapat berbicara dalam buaiannya dalam keadaan masih bayi.”

Sayyidina Ali berkata, ‘Yai itu benar. Nabi Muhammad SAW keluar dari perut ibunya sambil meletakkan tangan kirinya di atas tanah dan tangan kanannya diangkat ke atas beliau menggerakkan kedua bibirnya dengan ucapan tauhid. Lalu terpancarlah dari mulutnya cahaya sehingga penduduk Mekah dapat melihat istana-istana Bashrah dan istana-istana merah di negeri Yaman dan sekitarnya. Dunia menjadi terang benderang di malam kelahiran Nabi Muhammad SAW sehingga jin, manusia dan setan ketakutan.
Mereka berkata, ‘Telah terjadi peristiwa besar di muka bumi ini.’ Pada malam kelahiran beliau, para malaikat naik turun dari langit, bertasbih dan memuji Allah.”

Orang Yahudi berkata, ‘Mereka meyakini bahwa Nabi Isa AS telah menyembuhkan orang bisu dan orang yang menderita penyakit belang dengan izin Allah SWT.”

Sayyidina Ali berkata, “Ya itu benar. Muhammad telah diberi sesuatu yang lebih dari itu. Beliau telah menyembuhkan orang dari penyakitnya. Ketika beliau duduk, beliau bertanya tentang seorang sahabat beliau, lalu para sahabat beliau berkata, “Ya Rasulullah, dia terkena musibah sehingga dia seperti seekor anak burung yang tidak berbulu.” Kemudian beliau mendatanginya, ternyata orang itu benar-benar seperti anak burung yang tidak berbulu karena beratnya musibah. Beliau berkata, “Apakah kamu telah meminta sesuatu dengan doa?”

Dia menjawab, “Ya. Aku pernah berdoa kepada Allah agar segala siksaan yang akan menimpaku di akhirat nanti, disegerakan di dunia ini,”

Kemudian Nabi berkata, “bacalah doa ini, "Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hassanah wa qina adza bannar" (Ya Allah, berilah kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan, dan jagalah kami dari azab neraka). Maka orang itupun mengucapkannya, lalu dia segera bangun dan sehat.
Juga pernah seseorang datang dari Junainah yang menderita lepra. Dia mengadu kepada beliau. Lalu beliau mengambil mangkuk bersama air dan beliau meludahinya, kemudian beliau berkata, “Basuhlah badanmu dengan air ini!” Orang itu lalu mengerjakannya dan kemudian sembuh seakan-akan tidak terjadi apa-apa.’

Orang Yahudi berkata, “Mereka meyakini bahwa Nabi Isa AS telah menghidupkan orang yang telah mati dengan izin Allah SWT.”

Sayyidina Ali berkata, “Ya itu benar. Sungguh telah bertasbih sembilan kerikil di tangan Nabi Muhammad SAW suranya sampai terdengar padahal kerikil itu tidak bernyawa. Beberapa orang yang sudah mati berbicara dengannya dan meminta bantuan darinya dari siksaan kematian. Kamu meyakini bahwa Nabi Isa AS berbincang-bincang dengan orang-orang yang sudah mati, Nabi Muhammad SAW mempunyai pengalaman yang lebih mengaggumkan dari itu. Ketika beliau singgah di Thaif sementara kaum Thaif memboikot beliau. Mereka mengirim seekor kambing yang sudah dipanggang dan dicampur racun, lalu kambing itu berbicara, “Wahai Rasulullah, jangan engkau makan aku, karena aku telah diberi racun. Beliau telah diajak bicara oleh kambing yang sudah disembelih dan dibakar. Beliau juga memanggil pohon, lalu pohon itu menghampirinya. Binatang-binatang buas berbicara dengan beliau dan bersaksi atas kenabian beliau. Ini semua lebih besar dari yang diberikan kepada Isa AS.’

Orang Yahudi berkata, ‘Nabi Isa AS telah memberitahu kaumnya tentang apa yang mereka makan dan mereka simpan di rumah-rumah mereka.”

Sayyidina Ali menjawab, “Itu benar. Nabi Muhammad SAW telah berbuat sesuatu yang lebih besar daripada itu. Kalau Nabi Isa AS memberitahu apa yang ada di belakang tembok, maka Nabi Muhammad SAW telah memberitahu tentang perang Mu’tah, padahal beliau tidak menyaksikannya dan beliau menjelaskan tentangnya dan orang-orang yang syahid di sana padahal jarak antara tempat perang dengan beliau sejauh perjalanan sebulan.”

Akhirnya orang Yahudi tersebut mengucapkan dua kalimah syahadat dan bersaksi bahwa tiada kedudukan dan keutamaan yang Allah berikan kepada Nabi melainkan Dia berikan juga kepada Rasulullah SAW dengan tambahan.
Ibnu Abbas r.a. berkata, “Aku bersaksi, wahai ayah al-hasan, bahwa engkau adalah orang yang sangat dalam pengetahuannya.”
Sayyidina Ali menjawab, “Bagaimana aku tidak mengatakan tentang seorang yang Allah sendiri mengagungkannya dalam al-Qur’an, Sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung.”